Setelah sepuluh tahun ‘puasa’

Tags

, , , ,


Wow! Alhamdulillah, keren!

Merindiiiing pas baca beritanya di media-media online. Terharu! Akhirnya setelah redup selama ini, Indonesia bisa bersinar kembali di All England. Ajang olahraga paling aku sukai. Meskipun kali ini, untuk kategrori tunggal belum beruntung, tapi itu tak mengurangi rasya syukurku khususnya sebagai badminton lovers, dan masyarakat indonesia umumnya.

Ingatanku kembali melayang pada nama Rudy Hartono. Legendaris bulu tangkis. Master raket dunia. Yang berhasil mengharumkan nama Indonesia, dengan prestasinya yang luar biasa, 8 kali (7kalinya berturut-turut) menjadi juara All England, dan beberapa kali merajai Thomas Cup. Kemudian, adik-adik penerusnya, yang bermain tunggal meski belum se’master’ Rudy Hartono, tapi mampu menjadikan Indonesia sebagai juara dunia pada zamannya. Mereka adalah; Liem Swi King, haryanto Arbi, Icuk Sugiarto, Susi Susanti, Alan, Taufik hidayat, dll.

Tidak terasa, saya menangis saking terharunya. Karena sekarang ini, tim ganda sedang cemerlang, alhamdulillah. Hendra dan Ahsan, telah membuka ‘puasa’ gelar di All England selama sepuluh tahun terakhir ini, untuk tim ganda putra. Menambah kesyukuran atas kemenangan Indoneisa pada ganda campuran atas Tontowi Ahmad dan Lilyana Natsir.

Well, bagaimana dengan nasib atlet tunggal badminton kita? Semoga bisa kembali cemerlang, minimal sama dengan prestasi Rudy Hartono. Apa bisa? Tentu saja, because nothing impossible, right? ^_^

Kita bantu doakan juga ya! Supaya, PBSI semakin berbenah, prestasi atletnya semakin mewah, dan Indonesia tak lagi jengah. ^_^

Image

at home, 10-03-14

Being a Mom is amazing

Tags

,


Well, baru kali ini, keypad notebookku merasakan kembali sentuhan jemariku (halah lebay :P), setelah sekian lama fakum dari dunia persilatan eh penulisan. Karena, semenjak dianugerahi Allah sebuah titipan yang luar biasa berharganya, aku harus bedrest. Mual muntahku parah sangat. Sampai engga bisa beraktifitas apapun. Istilah kedokteran adalah hiperemesis.

Awalnya, tak ada mual muntah itu. Yang kurasakan bulan pertama –yang saat itu aku belum tahu kalau aku sudah ‘ngisi’, hanyalah lemas, cepat drop, dan sensi; gampang tersinggung, mellow banget deh, misal nih ya, dijailin/dibecandain dikit langsung marah dan nangis hahaha. #banyak istigfar dah.

Terus, ada yang unik saat aku mengetahui bahwa aku sudah ‘ngisi’. Begini, siklus haidku bisa dibilang teratur. Dan entah mengapa, pada Desember, yakni genap dua bulan usia pernikahanku, aku hanya mengeluarkan flek saja. Dan itu terjadi kurang lebih selama seminggu. Tidak seperti haid biasanya.  (eh sorry kalau yang baca ini cowok, cukup tahu aja ya, buat wawasan siapa tahu istri kalian nanti punya tanda-tanda yang sama, hehe).

Aku panik dong. Takut kenapa-kenapa sama kesehatanku. Alhasil, aku search di web. Tanda-tanda kehamilan itu apa saja, apakah flek termasuk ke dalam tanda-tandanya? Dan, iya ternyata. Aku penasaran, akhirnya sepulang kerja, aku minta diantar suamiku ke apotek, membeli TP.

Sampai di rumah magrib, for your info; karawang sekarang macet gila. Jam setengah tujuh petang, aku TP, untuk pertama kalinya. Sambil menanti hasil TP, dalam hati aku tidak terlalu ‘ngotot’ supaya hasilnya positif. Aku ikhlas apa saja yang akan ditampakkan si TP tersebut. Tidak sampai lima menit, hasilnya sangat jelas terlihat. Garis dua! Aku ingin melonjak saat itu. Tapi, karena ini pengalaman pertama, aku belum sepenuhnya yakin dengan hasil tersebut. Maka dengan polosnya, aku meminta mama untuk menjelaskan hasil tersebut, meskipun dipanduan TP pun sudah jelas bagaimana cara membacanya. Dan, mamaku bilang, alhamdulillah…

Karena, TP yang aku pakai saat itu, yang harganya kurang dari harga membeli seliter  bensin. Jadi, rasanya kurang yakin. Hehe. Jadi,  sepupuku yang saat itu juga sedang main ke rumahku, kuminta menjelaskan hasilnya. Diapun bilang, wah selamat ya neng…

Dua orang sudah yang meyakinkanku akan hasil penelitian si TP. Smspun ku layangkan pada suamiku, yang kebetulan setelah sholat magrib itu langsung meluncur ke sekolah, karena harus mengikuti perkemahan. Dia senang tapi masih belum yakin, beneran sayang? Alhamdulillah….

Kemudian, aku mendapatkan info, bahwa sebaiknya TP itu pagi hari. Aku pun jadi penasaran lagi. Resah kalau sampai hasil Tpku petang hari itu salah. Ditambah Tpnya harga yang standar. Gimana dong? Akhirnya kami memastikan dengan pergi ke bidan terdekat. Dan beliau bilang, iya atuh ini mah positif…

Dua hari setelahnya, untuk lebih meyakinkan kembali, kami pergi ke rumah sakit, untuk di USG. Dan alhamdulilllah, dari hasil USG sudah terlihat kantung janin. Berarti sudah 4 minggu usia janinku saat akhir desember itu.

Nah, pas awal januari…. Hm, udah deh, mulai mual-mual, dan juga muntah-muntah! Bahkan pernah muntah mengeluarkan darah, saking terlalu seringnya muntah sehingga lambungku yang memang sebelumnya sakit maag, menjadi semakin parah. Wuah! Akhirnya akupun dirawat di rumah sakit. Hehe, seumur-umur baru kali ini aku merasakan ‘hotel’ yang dihuni oleh banyak pasien. Hehe.

Aku pikir hanya sebentar, ternyata Allah punya rencana lain. Sakitku tak juga sembuh. Bahkan sudah lewat februari begini. Orang bilang; bawaan orok. Mual muntahku belum juga reda, sampai aku tak lagi masuk kerja. Ya, bagaimana mau kerja, wong Cuma mau berdiri dan jalan aja engga kuat! Ngedrop banget. Sering demam juga. Bahkan, makanan jarang ada yang masuk, sekalinya masuk langsung muntah lagi. Berat badan dan tensi darahku menurun drastis. Dan hidungku ini menjadi sensitif betul, tidak tahan dengan bau-bauan. Hahaha. Lucunya, semua makanan favoritku, berubah menjadi makanan yang ingin kujauhi, karena terasa bau menyengat. Tidak kuat! Padahal kalau kata orang lain mah, engga bau. Aneh memang. Belum lagi kondisi emosiku, yang sensitif luar biasa, kalau istilah populernya adalah labil. Ehehe.

Kata dokter, usia trisemester pertama kehamilan, bagi sebagian wanita memang begini. Rata-rata bisa ‘biasa’ lagi bila kandungan sudah berusia 4 atau 5 bulanan. Meskipun memang kondisi setiap orang berbeda, ada yang hiperemesisnya berlangsung sampai melahirkan. Ada juga yang bahkan sebagian wanita tidak hiperemesis sama sekali.

Hm, nano-nano deh rasanya. Tapi apapun ya, mungkin inilah cara Allah agar aku senantiasa belajar sabar dan bersyukur. Karena di balik hiperemesis ini, Allah punya kebahagiaan yang tak terhingga yang diberikanNya padaku, insyaAllah. ^_^  Dan aku jadi semakin sayang sama mama. Ternyata being mom is amazing ^_^

Image

Kalau kemarin-kemarin aku engga bisa ngapa-ngapain, Alhamdulillah sekarang ini, pada detik aku menulis ini, aku sudah mendingan. Tapi masih harus banyak istirahat. Belum bisa beraktifitas terlalu banyak. Doakan ya, semoga bisa segera pulih, setelah dua bulan terakhir lebih ini mengalami tantangan yang luar biasa. Alhamdulillah, suami, keluarga, sahabat, dan orang-orang di sekitarku selalu memberikan support, bantuan dan nasehat-nasehatnya. Semoga lancar sampai kelak bisa melahirkan dengan normal. Aamiin.

Nah, untuk para gadis, jangan cemas ketika jadi istri nanti bila dititipi anugerah hamil dengan kondisi hiperemesis, tetaplah positif thingking, dan yang terpenting adalah sabar dan ikhlas. Everything cause Allah.

Untuk yang sudah menikah dan belum dititipi anugerah tersebut, jangan putus asa. Karena, Allah maha mengetahui waktu yang tepat untuk kita, dan Dia maha memulyakan kita dengan cara yang sesuai dengan kondisi terbaik kita.

Untuk anakku, jika kelak kau baca blog ini; Nak, Ibu ridho dan sayang padamu, love you <3

-Baiti jannati-

10 Maret 2014, empat belas minggunya usiamu Nak. ^_^

Indahnya (tempat) Ibadah

Tags

, , , , ,


Cirebon. Pernah berkunjung ke sana? Atau mungkin nyasar di sana? Hehe. Beruntunglah.  Karena, di sana bisa kita temukan sejarah peradaban Islam yang memesona. Khususnya di alun-alun kota. Siapapun akan tertarik matanya untuk memandang sebuah bangunan yang indah. Tak hanya indah, tapi juga memiliki nilai-nilai religi yang mengingatkan kita pada ibadah. Ya, dialah Mesjid At-Taqwa.

Bangunan yang sejak dulu saya rindukan itu, pada November lalu telah saya sambangi. Meskipun kedatangan saya pada kala itu, niatnya adalah untuk memenuhi undangan pernikahan kawan baik saya di bilangan Cirebon. Saya sendiri tak pernah menyangka sebelumnya bisa sampai di sana, di mesjid yang sudah lama saya ingin kunjungi. Saya bahkan hampir lupa, kalau bangunan yang saya ingin kunjungi itu ada di kota tempat kawan baik saya menemukan tulang rusuknya. Dan awalnya, memang tak ada dalam agenda kepanitiaan untuk sengaja mampir di Mesjid tersebut. Tapi itulah keajaiban niat, kata Mang Ajat, seorang kawan saya juga. Niat yang baik akan dipertemukan dengan sesuatu yang baik pula. Tentunya atas izinNya. ^_^

Image

Masjid ini, mulai didirikan di kampung Kejaksan pada tahun 1918. Wah, tahun segitu saya masih main di lauh mahfudz sepertinya, hehe. Kata Wikipedia[1] , Masjid yang awalnya diberi nama Tajug Agung ini, berhasil selesai didirikan seadanya pada 1951, yang kemudian diresmikan pada 1963 dengan nama Masjid At-Taqwa, menimbang mashlahatnya agar tak tertukar dengan Masjid Agung Sang Cipta Rasa –yang jauh lebih dulu didirikan di sekitar Keraton Kasepuhan .

Apapun jika Allah mengizinkan, maka mudah saja. Termasuk pemugaran Masjid At-Taqwa tersebut, seperti dilansir di sebuah situs[2], yang menyatakan bahwa renovasi paling update Masjid ini, memerlukan dana sekitar 9,2 Milyar. Wow! Luar biasa. Semoga semakin banyak orang-orang yang berbuat baik. Aamiin.

Akses jalan menuju Masjid ini, sangatlah mudah. Tentu saja, karena ia berada di Pusat kota, tepatnya melalui Jalan R.A Kartini ataupun Jalan Siliwangi. Tepat di pinggiran ujung selatan Jalan Siliwangi, akan kita dapati gapura bergaya kolonial, yang melengkung membentangkan nama “Alun-alun Kejaksan”.  Dan memang ketika kita masuk melewati akses itu, kita akan memasuki lapangan rumput yang luas, itulah Alun-Alun Kejaksan. Dan pada saat saya ke sana, alun-alun tersebut nampak sedang dipersiapkan atau mungkin telah dipakai untuk acara kerohanian Islam. Dan kebetulan, sepertinya hari itu juga sedang ada kegiatan walimatul safaratul hajj, karena saat itu banyak rombongan yang berseragam putih di Gedung Islamic Centre, yang berada persis di samping Masjid At-Taqwa ini. Atau barangkali, ada yang melangsungkan resepsi pernikahan di sana. Entahlah, yang pasti gedung tersebut memang dipakai sebagai gedung serbaguna.

Setibanya di pelataran Masjid yang berlantai batu granit, kita disuguhkan dengan pekarangan indah yang tidak biasa. Karena di sana terdapat tumbuhan asli dari Timur Tengah, yakni Kurma. Ada beberapa yang saya lihat berjejer rapi di samping Masjid. Menambah keunikan tersendiri, selain mata kita dimanjakan dengan apiknya susunan taman tersebut.

Image

Image

Hal menakjubkan lain adalah, pintu depan Masjid At-Taqwa ini, dihiasi oleh lempengan berwarna emas yang bertuliskan kaligrafi dua kalimat syahadat, yang menurut sumber terpercaya, terbuat dari bahan glass reinforced cement (GRC) di atas batu granit asli dari Brazil. Wow! Jauh ya…

Dinding Masjid ini juga terbilang unik, karena jendela besar-besar  dibiarkan terbuka, dan dibentuk dengan aksen yang unik. Sungguh multifungsi. Pertama, untuk membiarkan udara segar keluar masuk dengan mudahnya, dan kedua untuk menambah kesyukuran kita, bahwasannya, arsitektur muslim kita sangatlah hebat.

Image

Image

Akulturasi budaya yang canggih. Itulah kesan yang saya tangkap. Karena, selain yang saya sebutkan di atas, Masjid ini seperti ingin mengatakan pada dunia bahwa kreatifitas umat muslim sangat mumpuni. Terbukti dengan perpaduan gaya Timur tengah, yang terlihat dari banyaknya menara-menara di sekitarnya, dengan budaya Jawa yang kentara, yakni atap Masjid yang berbentuk atap bertumpang-tumpang. Dengan begitu, Masjid ini, juga seolah mengingatkan tentang bolehnya menyerap budaya luar, tapi juga penting untuk mempertahankan budaya sendiri selagi sesuai dengan tuntunan Islam.

Yang semakin memukau adalah, ternyata ada satu menara yang paling istimewa. Yakni yang menjulang setinggi 65meter. Barang siapa yang bisa sampai pada ujung menara ini, maka dia pasti akan puas melihat seantero Kota Cirebon dengan sangat indahnya dari berbagai sudut. Sayangnya, saat itu saya tidak bisa naik ke menara tersebut. Karena  menurut Bapak Fikiri, salah satu anggota DKM yang ternyata pernah berkunjung ke Karawang, menyatakan bahwa menara tersebut dibuka setiap pukul tiga sore, sedangkan saya saat itu berada pada waktu Dzuhur. Dan lebih sayangnya, saya lupa menanyakan lebih lanjut soal itu. Karena, jamaah yang mampir hendak solat, penuh sesak.

2013-11-24 11.44.41

Image

Tapi, bagi yang tak sempat naik ke menara seperti saya, masih bisa melihat hasil tingginya menara tersebut. Karena di dinding Masjid, tepatnya di Koridor menuju ruang wudlu, dipasang foto Kota Cirebon dari dua sisi, barat dan timur, hasil jepretan di atas menara. Syukurlah, tak terlalu penasaran saya. Meskipun memang, akan lebih seru lagi merasakan kemahakuasaan Allah di atas ketinggian 65meter tersebut. Kapan-kapan coba deh, insyaAllah. ^_^

Image

Image

Image

Image

Saya beruntung, meski tak sempat naik ke menara tersebut, saya dipersilahkan untuk memasuki perpustakaan Masjid yang ada di luar sudut ruangan. Setelah melewati Bedug yang khas di pinggir ruangan, terus saja berjalan ke paling ujung, setelah ruang wudlu. Maka akan kita dapati Perpus sederhana dengan isi yang luar biasa. Menarik sekali.

Image

Image

Image

Image

Siapapun yang berkunjung tak hanya disediakan fasilitas untuk ibadah Mahdzah, tapi juga untuk mengembangkan pendidikan, ditambah dengan adanya Islamic Centre di sisi timur Masjid ini. Hal ini mengingatkan saya, pada Mesjid Nabawi, di mana Nabi memfungsikan Masjid tak hanya sekedar tempat solat, melainkan juga untuk sarana pendidikan dan pusat kegiatan sosial keagamaan.

Image

Image

Luasnya bangunan ini, mampu menampung jamaah sebanyak 5500 orang. Bukan jumlah yang sedikit. Tak hanya untuk warga Cirebon, tapi juga untuk musafir seperti saya dan rombongan yang ingin mampir melepas lelah, atau yang lebih penting, untuk menunaikan kebutuhan solat. Oh iya, tak usah cemas. Karena, di depan halaman Masjid, berjejer rapi para pedagang makanan berbagai menu yang pengertian dengan kondisi perut kita. Juga pengertian dengan kantong kita, hehe, sehingga harganya relatif terjangkau. Saya dan suami, kala itu memilih menu Nasi Lengko, karena tak berhasil menemukan Nasi Jamblang Khas Cirebon.

Image

Yoweslah, yang penting makanannya halal dan bikin kenyang, sehingga perjalanan kembali lancar tak terganggu sirine perut keroncongan, hehehe. Semoga, someday, saya dan suami berkesempatan berkunjung ke sana, menjelajahi Wisata Religi lainnya, seperti Masjid Agung Cipta Rasa dan lain sebagainya. Dan yang lebih penting adalah, menambah kesyukuran kita pada yang Maha Menciptakan, yakni Allah ‘azza wa jalla. Semoga.

Image

Image

Karena zaman dulu, apa-apa serba terbatas. Maka pertanyaan selanjutnya yaitu, ketika Masjid-masjid sudah banyak yang indah, maukah kita juga mengindahkan akhlak kita? (PR bersama :) )


[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Masjid_At-Taqwa_Cirebon

[2]  http://wisataindonesia.biz/masjid-at-taqwa-ikon-baru-kota-cirebon/#.UsUfb_vC7Mw

[3] sumber foto : koleksi pribadi

Dokter Kharismatik ^_^

Tags

, , , , , , ,


 Ada

Lagi-lagi, aku harus berurusan dengan dunia medis. Entah sudah keberapa kali aku menyambangi klinik atau rumah sakit, mengalahkan ratingku berkunjung ke tempat pariwisata. Hadeh. Tapi, memang itu yang semestinya aku lakukan, untuk mengetahui ada apakah kiranya dengan diriku. Juga untuk membantuku segera sembuh.

Ditemani kesabaran suamiku, kami mencari klinik atau rumah sakit setelah hujan reda. Aku memilih rumah sakit yang berada di dekat rel kereta di bilangan johar. Setibanya di sana, gerimis kembali turun. Segera kami masuk ruangan. Rupanya sudah banyak perkembangan. Terbukti dengan adanya layout parkir dan pintu masuk rumah sakit yang baru. Syukur deh, jadi keluarga pasien atau bahkan pasien yang datang ke sana, tak kesulitan memarkir kendaraan. Tapi aku kecewa, ketika ternyata hari itu tak ada dokter yang sesuai untuk menangani penyakitku.

“Jadwalnya, Hari Senin, Rabu dan Jumat, bu.” Ujar seorang wanita yang jaga di bagian administrasi. Dan aku kesana tepat di hari Kamis. Oh, poor me! Yasudahlah. Akhirnya aku dan suami keluar dari ruangan yang didominasi warna crem dan hijau itu. Saat menaiki kendaraan, suamiku komentar. “Peraturan yang aneh.” Aku mengernyit. Lalu dia menunjuk papan tata tertib parkiran di sana. Yang digaris bawahi oleh suamiku adalah kalimat: kehilangan  tak menjadi tanggung jawab kami .

“Lalu, untuk apa kita bayar parkir (yang ditarif pula), coba?” dia berujar. Aku ikut mikir kemudian tersenyum, kritisnya suamiku. :)

Hari makin gelap, klinik mana ya yang terdekat? Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke rumah sakit di bilangan Kertabumi. Yang artinya, lebih jauh. Sebenarnya, bisa saja sih, kami memutar arah, kembali ke daerah Telukjambe, tapi berhubung di sana tidak ada jamsostek dari perusahaan dimana aku bekerja, dan sayang juga kalau plafon terabaikan saat dibutuhkan, maka meski cuacanya bikin galau, akhirnya kami tiba juga di bilangan Kertabumi. 

“Sholat dulu yuk.” Qawwam alias suamiku menyeru, dan aku setuju setelah memastikan bahwa dokter yang akan kami tuju, sedang berada di tempat.

Alhamdulillah, tak terlalu lama kami duduk di depan meja administrasi untuk dipanggil mendapatkan tiket masuk :D. Oh ya, terakhir ke rumah sakit ini, ketika hari minggu. Saat kami menjenguk teman. Kali ini, aku yang malah jadi pasien. Hoho. Dunia cepat sekali berputar.

Sesampainya di ruang dokter yang kami tuju, aku langsung diperiksa tensi darah. Setelah itu kembali aku melakukan pekerjaan yang Imam Robandi bilang adalah salah satu budaya melatih kecerdasan emosional, yakni mengantri.

Sang suster dengan ramah tersenyum pada kami. Dan sedekahnya itu, membuatku lebih nyaman meski harus menunggu, selain tentu saja karena adanya suamiku. Hehehe. Sambil menunggu, aku memperhatikan dengan seksama (dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya :D) bangunan rumah sakit ini. Ada banyak ornamen dan symbol agamis, seperti kaligrafi yang dicetak besar di sudut ruangan. Kesan yang ku tangkap adalah, pemilik maupun karyawan rumah sakit sini pastilah mengerti agama dengan baik. Selain itu, ada juga tata cara yang berkaitan dengan dunia medis yang ditempel di dinding ruangan. Seperti cara mencuci tangan yang baik dan benar. (yaiyalah, masa iya yang ditempel itu cara memasak? :D emangnya tempat kursus :P?!)

“ Djayanti.” Panggil suster itu akhirnya, pintu ruang dokter dibuka.

“Oh, sepertinya sudah pernah ke sini ya.” Ujar sang Dokter. Wah, rupanya beliau masih ingat. Ya iayalah! Kan waktu dulu aku juga pernah berobat ke sini, jadi otomatis ada lembar riwayat pasien. Hm, satu hal yang aku sukai di rumah sakit ini, mananejem dokumennya bagus.

“Pas ke sini, bulan Mei yang lalu ya.” Dokter yang bergelar SpPD itu memulai percakapan dengan senyum. Aku mengangguk. Sama seperti dulu, ternyata dokter ini masih ramah saja. Konsisten dalam kebaikan. Yang terlihat berbeda, hanyalah jumlah uban di kepalanya. Semakin lebih banyak. Usia memang merambat lebih jujur.

Suaranya yang mungkin dulunya adalah vokalis itu (sotoy :D), terdengar renyah menanyakan apa saja yang aku rasakan, untuk kemudian diperiksa lebih lanjut. Suamiku mengamati dan ikut memberikan informasi, pada setiap pertanyaannya sebagai ahli medis.

“Periksa darah, dan tes urin dulu ya.” Seru dokter berkacamata tebal itu. Aku agak khawatir, karena tak siap bertemu dengan jarum suntik. Payah! Hahaha.  

“Setelah itu, kembali lagi ke sini.” Lanjutnya, setelah menjelaskan rute menuju laboratorium.  

Lintas Budaya

Di depan laboratorium, tak hanya kami, orang pribumi yang menunggu untuk diperiksa. Tapi, sepasang suami istri, yang kata suamiku bahwa mereka adalah orang India, juga sedang menunggu hasil laboratorium. Wow! Keren ya, daerah lokal, tapi pasiennya ada yang asing.

“Tahu dari mana mereka orang India?” aku memastikan asumsi suamiku.

“Dari bahasanya, Neng.”

“Oh…” aku percaya, karena suamiku memang sempat mengenal bahasa negaranya Sahruk khan tersebut. Lagi pula, memang sih, tanpa harus mendengar obrolan merekapun, pada kenyataanya, secara penampilan, baik gesture wajah maupun tubuh, mereka cukup menjelaskan identitas itu. Cuma yaaa, tadinya kufikir, siapa tahu aja mereka itu orang Ambon, hehehe. Dan karena ciri-cirinya yang mirip orang Ambon itu, maka bisa ditebak, mereka adalah India dari golongan dravida.

Andaikan aku Fitri Tropica, yang punya tingkat PD di atas rata-rata, aku pasti mengajak mereka kenalan. Kapan lagi coba, bicara dengan orang asing? Hehe. Apalagi ini orang dari bangsa yang pernah meramaikan Indonesia pada zaman pra-kemerdekaan melalui perdagangannya. Tapi sayangnya aku bukan Fitri Tropica, juga tak mengerti bahasa mereka. Jadi, apa mau dikata? (Haha, dudul. :D)

Parno (takut)

“Aku cuma engga mau bikin Aa khawatir.” Jawabku, saat suamiku bertanya, tentang beberapa hal yang aku rasakan tapi tidak aku ceritakan. Tapi pada akhirnya, aku cerita juga. Hehe.

Sabar mendapat panggilan, lebih aku sukai daripada dipanggil itu sendiri. Karena artinya, aku akan bertatap wajah dengan jarum suntik. Huaaa…. >.<

Sebenarnya aku tidak takut dengan jarum suntik, aku hanya khawatir jika ujung jarum itu menembus kulitku. (wkwkwk podo bae atuh jee… :P)

“Jangan tegang.” Rupanya, dokter yang juga berkacama itu, membaca raut wajahku.

“santai aja…” lanjutnya tak lupa melempar senyum. Aku sendiri, meringis. Belum juga sampai itu jarum ke kulit, aku sudah takut duluan. Wew!

“Aku emang parno bu, kalau disuntik. Di pabrik aja, pas medical chek up, suster-susternya sampai hapal. Kalau aku adalah orang yang paling tegang kalau disuntik. Tapi untungnya tidak sampai pingsan sih bu, hehehe.”karena ibu dokternya pendiam, maka  aku nyerocos mengalihkan perhatian dari si jarum suntik yang sudah siap menyedot darahku, Ibu dokter tersenyum.

Bismillah, bismillah… dalam hati aku berucap. Berusaha membuang ketakutanku. Tak lama, semut nakal menggigit lengan kananku. Oh, bukan dink, itu sedang disuntik. Tapi aku tak berani melihat. Ah dasar, aku memang tak ada bakat menjadi dokter. Hahaha. Mendadak, aku teringat ilmuwan Ahmad Thoha Faz, yang mengatakan, sebenarnya, keberanian bukan ketiadaan rasa takut, melainkan penilaian bahwa ada sesuatu yang lebih penting dari ketakutan itu sendiri.

 Okay! Baiklah, disuntik lebih baik daripada diestrum kan? Pikirku kemudian. Hahaha.

Ketulusan

Aku tak begitu mengerti dengan hasil laboratorium itu. Sampai akhirnya, sang dokter yang penuh kharismatik itu, menjelaskan hasilnya setelah kami tiba kembali di ruangannya.

“Jadi kenapa, Dok?” Tanya suamiku. Dengan tartil, manusia berjas putih di depan kami, menjawab. Aku terperangah dengan jawabannya. “Thypus engga mesti diopname, koq.” Diagnosanya mengharuskan aku untuk dirawat di rumah sakit. Tapi kemudian, setelah dipertimbangkan, dokter memberiku alternative, membolehkanku tak dirawat di rumah sakit, “yang penting bed rest di rumah ya.”

Kecemasanku berangsur hilang ketika beliau memberikan resep bahkan saran. Suamiku khusyu menyimak, aku sendiri terlanjur mengamati indahnya cat tembok ruangan ini. Unik, desainnya garis-garis tangkai dan bunga lili. Bunganya warna putih, senada dengan hati sang Dokter yang juga putih. Betapa tidak, beliau yang tanpa kami minta, memberikan saran yang lebih dari cukup. Bahkan ketika beliau paham bahwa kami adalah keluaga.  Aku kembali menyimak rangkaian demi rangkaian kalimatnya. Seluruhnya adalah keoptimisan. Dan banyak ilmu yang sengaja beliau sedekahkan pada kami. Subhanallah.

Dari awal aku berobat ke dokter ini, aku rasa dia memang berbeda dengan dokter-dokter lain yang pernah aku kunjungi. Wajahnya yang teduh, yang mungkin sering disiram air wudlu, membuat pasien atau siapapun yang bertemu dengannnya, akan merasa nyaman. Apalagi akhlaknya, masyaAllah. Dari sekian dokter yang aku tahu, baru beliau saja dokter yang ramah dan tak segan-segan berguyon untuk mencairkan suasana. Guyonannya pun santun. Tidak norak, dan tidak asbun alias asal bunyi. Misalnya saja, ketika saya mengakui bahwa saya memang sering tak nafsu makan akhir-akhir ini, beliau memberikan guyonan yang tak lepas dari nilai budaya. Begini paparnya:

Waktu saya masih di Bandung. Saya ‘kan suka baca Mangle. Di sana ada cerita Kabayan tea kan. Tapi edisinya waktu itu menceritakan Usro.

Di cerita dijelaskan kalau Usro pada saat akan pergi ke pasar, mendadak dipanggil oleh bibinya. Rupanya, bibinya itu ingin nitip sesuatu. Usro mengiyakan. Si bibi pun, mengambil uangnya untuk diberikan pada Usro. Eh, pas mau diserahkan uangnya, ternyata Usro malah sedang dikukurung ku sarung. Bibinya bertanya, ‘maneh kunaon?’,   ‘gering bi’ jawab Usro.

Inisiatif, sang bibi pergi untuk mengambilkan air teh manis untuk Usro. Setelah di berikan pada Usro, bibinya kembali ke dapur untuk mengambil kue. Maksudnya supaya Usro minum tehnya sambil memakan kue. Sekembalinya bibinya dari dapur dan menaruh kue di samping Usro, ternyata teh manisnya habis duluan. Lalu sang bibi, kembali lagi ke dapur membuat teh manis. Selang beberapa menit, sang bibi kembali lagi ke kamar Usro. Kagetlah dia. Karena, kue yang barusaja disajikan, ludes. Dengan sabar, si bibi kembali lagi untuk mengambilkan kue. Setibanya dikamar Usro, teh yang disajikan keduakali itu sudah habis. Begitu berulang kali. Sang bibi mondar-mandir dapur, untuk mengisi ulang teh dan kue. Sampai akhirnya sang bibi bosan dan berkata. “Usro. Ai maneh, sakieu the keur gering, kumaha keur cageurna.(segini teh kamu lagi sakit, gimana kalau sehat.)”

Hahaha.

Cerita diakhiri dengan tawa sang dokter. Aku dan suami ikut tertawa. Keren. Ada nilai filosofis di sana. Tentang mengendalikan diri dari ketamakan terhadap makanan, salah satunya. Wow, ternyata  dokter nan kharismatik itu, tak hanya tau ilmu kedokteran, tapi juga bisa menggabungkan nilai-nilai kedokteran dengan nilai-nilai kebudayaan dan sastra. Hebat!

Akhir pertemuan kami, sang dokter memberikan lagi beberapa saran. Sungguh, beliau termasuk orang-orang yang mampu menangani orang lain dengan hati. Tak hanya dengan isi kepala. Beliau juga mampu memperlakukan orang lain dengan antusias dan ikhlas. Aku rasa, banyak pasien yang sebelum diberi obat, sudah berangsur sembuh hanya dengan bertemu dan mengobrol dengannnya. Dan dengan kematangan ilmu EQC-nya, beliau juga mampu mengamalkan “placebo effect”, yakni sebuah perlakuan medis yang tidak berisi zat-zat medis apa-apa (placebo) –satu-satunya unsur aktif pada perlakuan ini adalah kekuatan harapan positif pasien, yang didukung oleh interaksi dengan terapis, dalam hal ini, dokter  berperan sebagai terapis juga.

Untuk itu, kalau jiwanya tidak dokter sejati, maka akan sulit menerapkan ‘’placebo effect’’ ini. Hanya orang-orang yang tulus yang dapat menerapkannya. Dan dokter itu kami rasa telah berhasil.

Aku dan suami jadi belajar banyak pada dokter tersebut. Dokter yang mengesankan, yang mempunyai nama: dr. Syafrudin SpPD. (maaf kalau salah penulisan nama ya pak, hehe)

Image

Terima kasih, Dok. Semoga semakin banyak, dokter-dokter seperti Anda, yang tak hanya mumpuni dalam pengetahuan kedokteran, tapi juga membumi dalam kerendah hatian dan ketulusan. Dan bahkan tak hanya di ranah dokter, semoga muncul Syafrudin-Syafrudin seperti Anda di berbagai bidang.

Benar apa yang dikatakan Parlindungan Marpaung, bahwa melayani dengan tulus adalah bahasa yang dapat didengar orang tuli dan dilihat orang buta.

Aku doain Pak, semoga pak Dokter Syafrudin, suatu saat bahkan kalau bisa segera jadi Menteri Kesehatan. Mencerahkan umat dan kesehatan Indonesia. Dan yang lebih penting adalah menggantikan Menkes dengan inisial *mboi yang mungkin agak konslet atas ide gila PKN-nya yang na’udzubillah.

Atau kalaupun bukan bapak yang jadi Menkes, minimal, siapa ajalah yang bisa lebih baik, lebih bernurani dan berakhlak sesuai dengan sila pertama Pancasila. Aamiin.

Semoga suatu saat, kami berkesempatan mengobrol lebih banyak, tentunya bukan dalam keadaan sakit, seperti kemarin, tapi dalam keadaan sehat wal afiat semuanya. Karena sakit itu, muaaaaahaaall! :D

 

Salam olah jiwa,

Djayanti Nakhla Andonesi

Karawang lumbung nurani (doa), hehe.

Merunut


images

Tahun ini, akan ditutup tak lama lagi. Tinggal menghitung hari untuk sampai di tahun selanjutnya, di hari-hari yang masih misteri untuk diungkap saat ini. Adakah kita masih diberi usia di sana? Aku tak tahu. Tak ada yang bisa memastikan itu. Tak ada.

Aku merunut kejadian-kejadian di hidupku. Setidaknya untuk setahun ini. Begitu banyak hal yang terjadi, baik susah maupun senangnya, baik sedih maupun bahagianya, begitu banyak hal yang dilakukan dan dilalui, dan begitu banyak hal yang ternyata terabaikan. Ah…

Entah berapa milyaran jam indahnya hidup yang tak sempat aku nikmati karena tergoda untuk mengeluh. Entah, berapa ratusan juta kali aku kehilangan kesempatan untuk bersyukur atas apa yang dianugerahkan padaku. Entah, tak terhitung jumlahnya, aku mengabaikan diri dalam kelalaian yang mengerikan. Dan entah, sudah berapa kali aku merampas kebahagiaanku sendiri dengan menyerah atau kadang terlintas syak wasangka terhadap ujian-ujianNya yang aku terima. Astagfirullah…

Kadang aku merasa begitu lemah, lelah. Bukan saja dengan apa yang terjadi, tapi juga dengan diriku sendiri. Aku tak tahu, kapan aku mengatakan aku baik-baik saja, dan mengatakan aku sedang tidak baik-baik saja, selama aku mengenal diriku sendiri. Tapi setelah aku sadar, aku tahu, bahwa apa yang Allah ujikan padaku, sudah dalam dosis yang tepat. Tak kan meleset sedikitpun dari kemampuanku. Aku yakin itu. Setidaknya untuk meredakan kecemburuanku terhadap orang yang lebih mampu mendekat padaNya.

Mungkin sakitku, seperti yang terjadi sejak kemarin, akan mengurangi dosa-dosaku. Mungkin sesakku, akan menjadi penawar kelalaian yang tanpa aku sadari sering kulakukan. Semoga  airmata yang terjatuh saat jiwa ini tersadar atas kelalaian bisa menjadi penyejuk api penebus dosa.

Aamiin. Allahumma aamiin.

Dan pada akhirnya, catatan ini mengajak diriku dan siapapun yang membaca: mari sambut hari esok, untuk lebih baik lagi! *smile

^_^

Special thanks untuk suamiku, yang tak berhenti meyakinkan diri ini, bahwa semua uji adalah bentuk kasih sayang dari Allah. Keep struggle and positive thinking! :)

DNA…

-peace and learn-

Kena Deh!


Image

Begini. Tadi, saya menulis sesuatu, mencoba membiasakan diri, di blog saya. Detailnya, saya membuka akun wordpress saya, kemudian meluncur, melihat-lihat bacaan dari blog yang saya follow, setelah itu, saya  pilih ‘New Post’ untuk mulai menulis apa yang ingin saya tulis.

Kebiasaan saya adalah, saya menulis langsung di badan text akun. Tidak menuliskannya lebih dahulu di Mocrosoft word. Karena saya merasa dengan menulis langsung dibadan akun, saya tidak perlu ribet-ribet memindahkan tulisan saya dari Microsoft Word ke Akun. Dan ternyata hal itu adalah FATAL! (don’t try this at home B-) )

Karena, saya menemukan resiko buah khuldi alias bahayanya kini. Yakni, saat tulisan saya nyariisss saja rampung, Blep! Mendadak ter-Close, Entah karena apa, dan naasnya, tulisan saya itu belum sempat saya SAVE!

Glek!

Saya klik button –Undo-, berharap menemukan tulisan saya kembali. Terus saya bolak-balik, meng-undo-kan tulisan. Tapi tetap saja, huruf-huruf yang berbaris rapi di layar akun saya tadi, yang berhasil saya turunkan dari kepala menuju tangan dan jemari saya, raib tak berjejak.  -__-‘’ Kan Bete, jadinya. Tapi salah saya juga sih, hehe. Mengapa tidak memilih sesuatu yang lebih safety, yakni dengan menulis di Mc.Word dahulu, kemudian dipindahkan ke akun? Dasar malas, Cuma segitu aja dibilang ribet. Jadi, kena deh sekarang batunya! Rutuk diriku sendiri. Innalillahi…

Ya, sebelum resiko atau faktor lain yang lebih parah lagi, akhirnya saya sadar, hati-hati lebih baik daripada hati (saja). Itulah fungsinya pengulangan kata ini. HATI-HATI. Agar hidup, termasuk tulisan, lebih safety.

Salam, Djayanti Nakhla Andonesi ^_^

Happy Birthday…!

Tags

,


Sebuah karya akan memicu inspirasi. Teruslah berkarya. Jika Anda berhasil, teruslah berkarya. Jika Anda gagal, teruslah berkarya. Jika Anda tertarik, teruslah berkarya. Jika Anda bosan, teruslah berkarya.” [Michael Crichton]

 

Jleb banget rasanya pas baca kalimat Mbah Michael (siapa gue? :D) itu. Sindiran paling maknyus untuk saya pribadi. Karena, rasa pesimis sering menghantui diri saya, ketika gagal dalam sebuah karya. Padahal, tak ada karya yang sekali seduh terus jadi. Semuanya butuh proses, butuh ketekunan, kesabaran, dan kesungguhan. Hapal benar saya akan hal itu. Tapi pada perjalanannya, kadang saya tidak sanggup. Merasa apa yang telah saya hasilkan, tidaklah bagus, apalagi setiap ikutan lomba selalu gagal. Hahaha.

Tapi, saya beruntung. Ketika menemukan teman-teman yang satu semangat dengan saya, dalam hal menulis. Teman-teman yang menginspirasi. Teman-teman yang rela berbagi. Teman-teman yang memiliki motivasi yang tinggi. Terutama mimpi. Kadang saya malu sendiri, apa yang telah saya bagi?

Ya, saya bertemu dengan mereka dalam ikatan sebuah Forum, yang dengan rendah hati telah menerima saya sebagai anggotanya. Forum itu bernama Forum Lingkar Pena. Tak banyak yang saya kenal sebelumnya, tapi setelah masuk kedalamnya, saya jadi tahu, mereka yang besar di sana, punya kemauan yang tinggi untuk mengasah kemampuan. Dan langsung maupun tidak, telah memercikan semangat menulis pada saya. Pesimis saya, perlahan menjelma rasa optimis. ^_^

Di usianya yang menginjak tahun ke tiga, FLP cabang Karawang ini, telah menjadi jejak yang menginspirasi. Dengan slogannya, #berkaryaberbaktimengabdi, sedikit banyak telah membuat saya termotivasi. Meskipun terkadang saya jarang hadir, hehehe, tapi itu tidak mengurangi kecintaan saya pada organisasi yang satu ini. Ah, semoga rasa cinta saya pada FLP bisa menghasilkan manfaat yang banyak, untuk bangsa ini, selain untuk diri saya sendiri. Semoga.

FLP Karawang, teruslah berjalan, meski harus merangkak, teruslah bergerak.

Kita mungkin masih balita, tapi semangat kita semoga tetap melesat sepenuh jiwa, hingga menembus angkasa.

Happy Birthday 3th FLP Karawang…

Barokallahulanaa.. ^_^

 

Katakan ‘sayang’ pada tempatnya :)


“Hati kadang sedih kalau inget itu.” Gadis itu membuka obrolan.

“Sedih kenapa? inget apa?” tanyaku yang belum sempat kutanyakan. Tapi langsung dia jelaskan.

“Dulu dia dekeeeeet banget sama aku. Tapi pas dia mau nikah, koq aku agak-agak gimanaa gitu.”

“Agak-agak gitu gimana?” tanyaku belum paham.

“Iya, saking deketnya, jadi ngerasa kehilangan.” wajahnya sendu.

“Dia itu cewe atau cowo?” mataku menyelidik.

“Cowo,” jawabnya pendek. Aku diam, menanti penjelasan selanjutnya. Tapi kemudian hanya hening. Akhirnya kuberanikan diri bertanya.

“Emang dia itu siapa kamu? Kakak? Sepupu? Atau hanya teman?”

Ditanya begitu dia malah diam. Menghembuskan nafas, berat.

“Siapa ya? Hahaha, entahlah.” Matanya menerawang. Seperti sedang melihat kenangan di atas kepalanya. Aku bingung.

“Dibilang Kakak, tapi bukan kakak kandung. Di bilang teman, tapi rasanya deketnya lebih dari teman.” jelasnya kemudian setelah tak tega membiarkanku kebingungan.

“Dia perhatian banget sama aku. Tak ada teman cowo yang se-care dia, walaupun aku ga terlalu care sama dia. Hehehe.” lanjutnya, aku menyimak.

“Dia selalu manggil aku dengan sebutan yang baik-baik. Misalnya, aku cantik, Neng geulis, bahkan sayang. Bikin aku Ge-er aja.”

Aku mengernyit. Okelah, untuk kata cantik atau neng geulis, masih bisa ditolelir, karna nyatanya dia memang cantik. Tapi untuk panggilan sayang itu? Aku berusaha menemukan jalannya makna positif. Tapi mentok! Mengingat, panggilan ‘sayang’ itu, dalam kamusku, terlalu mesra dan berlebihan untuk dilontarkan ke lawan jenis yang bukan muhrim. Pantas saja kalau temanku itu Ge-er.

“Terus?” tanyaku kepo.

“Aku memang ga bales ucapan sayangnya, tapi jujur dalam hati aku senang. Rasanya menyenangkan dipanggil sayang sama orang deket. Apalagi dia perhatian.” dia tersenyum. Tapi kemudian murung.

“Tapi sebelnya, ternyata dia nikahnya sama orang lain! Kirain dia mau nungguin aku, hahaha, abisnya dia sering banget manggil sayang ke aku, sedangkan ke temen cewe lainnya ga pernah aku denger dia manggil gitu. GRnya gue, hahaha.” tawanya garing.

“Eh, tapi, aku sendiri emang nganggap dia kakak sih. Cuma kadang, perhatiannya yang lebih dari yang lain itu, bikin aku jealous pas dia bilang mau nikah sama seseorang, dan seseorang itu bukan aku.” dia mencoba tersenyum.

“Aku sadar akhirnya, kalau aku salah persepsi. Mungkin, dia emang sayang ke aku sebatas ke adiknya aja. Ga lebih. Tapi lain kali, kalau ada yang mau jadi kakak angkatku, aku bakal menolak keras-keras kalau dipanggil ‘sayang’ lagi. Karena aku tahu, meskipun sesama manusia harus saling menyayangi, tapi panggilan ‘sayang’ itu lebih pas diucapkan untuk yang muhrim.” pungkasnya, sebut saja dia Z.

Aku tersenyum. Kemudian, aku salutkan atas apa yang menjadi kalimat pungkas Z. Aku pun balik bercerita padanya, bahwa dahulu aku juga pernah punya kakak yang kuanggap baik. Tapi, kami tidak pernah sampai se-lebay itu manggil sayang-sayangan. Kami tahu, kami bukan muhrim. Maka, kakak-adik kami, hanya sebatas diskusi materi. Ataupun obrolan ringan. Itupun kami jarang bertemu. Dan memang aku tak mengharapkan lebih dari itu.

“Ya, alhamdulillah atuh kalau kamu sudah mau memakai kacamata agama untuk melihat mana yang baik mana yang engga.” jawabku.

“Kamu engga salah, kalau kamu ge-er. Wajar, cewe mana sih yang ga ge-er dipanggil ‘sayang’ atau panggilan lembut lainnya? Hanya saja, jangan sampai kita ikut-ikutan salah dengan meneruskan membalas ucapan mesra. Dan atau membiarkan kemesraan itu lebih parah lagi. Karena ‘kan bukan muhrim. Kecuali kalau udah suami-istri, itu mah beda pembahasan lagi. Justru kalau udah suami-istri mah, dianjurkan untuk saling memanggil dengan mesra.” Jelasku.

“Jadi, kemaren-kemaren aku dosa ya? Udah mesra sama yang bukan muhrim?” tanyanya, polos. Aku diam. Dia muram.

“Tak ada yang tak pernah melakukan kesalahan. Dan Allah dengan keMaha-anNya, insyaAllah akan mengampuni kesalahan hambaNya. Asalkan kita sungguh-sungguh mau mohon ampun padaNya.” aku memeluknya. Z malah menangis.

“Ingetin aku terus ya…”

“insyaAllah kita saling mengingatkan.” kami tersenyum.

“Berarti, sekarang kamu ga jealous lagi kan?” iseng aku bertanya.

“ENGGA Donk! Kan dia bukan suami aku! Ngapain dicemburuin?” balasnya retoris. Aku mengacungkan jempol. Setuju dengan kalimatnya.

“Lagian dia engga seganteng Brad Pitt!” sambungnya sambil terkekeh.

GUBRAK!

—-

Itu hanya potret kecil dari ketidakharusan dan ketidakmestian melakukan sesuatu. Pelajarannya untukku dan para sodara-sodariku…
Sudahlah, kita tak perlu melakukan sesuatu yang belum saatnya, atau yang tidak pada tempatnya. Karena segala sesuatu itu akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah. Meskipun pertanggungjawaban itu engga ditagih sekarang, ada akhirat yang menanti untuk menghisab segala macam tingkah laku. Apalagi Raqib dan Atid engga pernah absen nyatet niat dan amalan kita. Iya toh? ;)

Terus, gimana dong kalau kita udah terlanjur berbuat kesalahan? Jawabannya, pembaca juga sudah tahu, yakni yuk bergegas mohon Ampun pada Allah sekaligus bergegas memperbaiki diri. Jangan tunggu hari esok untuk bertaubat. Karena kita engga pernah tahu kapan Izrail datang menjemput kita. Iya kan? Bisa lusa, esok, atau bahkan hari ini? Wallahu’alam. So, ladies and gentleman… yuk sama-sama membenahi diri. ;)

Setiap kali kita bersungguh-sungguh memperbaiki diri, pada saat yang sama kita sudah mulai memperbaiki yang lain. -Aagym-

Salam pena,
Karawang, Djayanti Nakhla Andonesi ;)

Ikatan kita, ikatan cinta karenaNya.


Tak kenal, maka ta’aruf. ^_^

Siapa yang menyangka. Ternyata, lelaki itu, datang bersama seseorang, untuk mengutarakan niatnya berta’aruf denganku. Padahal, di luar sana, mungkin ada banyak fansnya yang menanti. Juga aku tahu, ada gadis lain yang sebenarnya lebih baik dariku. Tapi entah, akhirnya, dia memilih berta’aruf denganku. Dan anehnya, tak ada keraguan padaku sama sekali saat itu untuk menerima tawaran ta’aruf darinya. Padahal, sebelumnya, aku sudah mati rasa untuk menerima seseorang lagi. Yakni karena zaman baheula, aku sempat jatuh bangun, dan selalu ragu bila mendengar janji laki-laki, bagiku kala itu, janji laki-laki adalah bullshit (aduh bahasanya koq lebay beud :p). Mungkin karena aku masih labil. Maklum, waktu itu belum lama lulus dari sekolah menengah akhir, jadi, masih gampang rapuh dalam perasaan. Ciyus. :D (tapi sih, katanya kalo cewe mah emang bakat dari sononya : perasaannya halus. *ngebela diri ;P)

Tapi serius, subhanallah dia datang di saat yang tepat. Saat hati memang sudah siap sepenuhnya menerima calon imam hidupku. Saat hati sudah netral. Sudah tak ada lagi luka yang tersisa. Sudah tak ada lagi ragu yang menjelaga. Sudah. Saat dia datang, aku benar-benar sudah siap dengan hati yang seutuhnya menerima. Tak setengah-setengah. Apalagi seperempat-seperempat kayak beli gula di warung.

Aku menginginkan orang yang agamanya baik untuk menjadi imamku  dan anak-anakku kelak. Karena, orang yang agamanya baik, insyaAllah akhlaknya juga baik. Seiring berjalannya waktu. Aku mulai mengenalnya. Dia jujur. Bersahaja. Sabar dan sungguh-sungguh tipikalnya. Dan satu hal yang paling penting bagiku, tulus. Nah, ternyata dia bukan saja baik, tapi juga tulus. Aku bukan mempromosikan kelebihannya, karena setiap orang pastilah punya kekurangan. (Apalagi aku, yang punya banyak kekurangan). Tapi, sungguh, ketulusannya itu telah kulihat nyata, ketika dia mau menerima kekurangan diri dan keluargaku yang apa adanya.

Gencar, istikharah aku lakukan. Setiap ada kesempatan aku berdoa. Mohon pada Allah yang telah menciptakan sesuatu itu dengan berpasang-pasangan, agar aku dan dia diberi takdir terbaik. Jika dia yang memang jadi jodohku, aku mohon dimudahkan jalan kami untuk segera bertemu di ikatan yang suci. Namun jika bukan, aku berdoa agar aku diselamatkan dari hal, sifat atau perbuatan yang mendzolimi diri kami sendiri.

Kunjungan ketiga

“Maaf, ta’aruf kita sudah cukup sampai di sini.” aku masih ingat, pagi itu, di hari ulangtahunku berangka kembar, dia menyudahi masa ta’aruf kami. Dan aku yang baru saja pulang sift tiga, mendadak tak mengantuk lagi. Macet rasanya tenggorokanku. Jadi, belum ada yang bisa aku katakan saat itu, selain hanya mendengarkannya bicara. Dalam hati aku menguatkan diri.

‘Its okey, toh… jodoh tak akan tertukar. Ini pasti rencana Allah. Aku tahu itu. Aku tahu, Allah tak akan salah membuat keputusan.”

“Tenang Je… ini hanyalah episode yang cuma lewat. Be Strong! Waktu gagal khitbah aja kamu bisa melewatinya, masa cuma gagal ta’aruf aja kamu cemen?”

Aku berdialog dalam hati. Sambil ketat menjaga mata supaya tak berair. Sedang hidungku sudah mulai ingusan. (emang lagi pilek kalee :D)

Mimiknya serius bukan main, kemudian menanyakan sesuatu setelah memohon maaf atas disudahinya masa ta’aruf ini. Aku yang tahu diriku ini cengeng, mulai kewalahan mengatur strategi untuk tak terlihat demikian. Sudut mataku sudah menghangat. Oh, ini ulang tahun yang begitu ironis. Plis! Jangan nangiiiss…!!! Aku menjerit dalam hati, menguat-nguatkan diri. Pasrah. Sudahlah… mungkin dia bukan jodohku, aku menghembuskan nafas dengan berat. Hellooww… ikhlas mana ikhlas… Allah sudah menyiapkan yang lebih baik Je… masih terus menabahkan diri aku mencoba mengatur nafas yang mendadak sesak. Ih! Koq gini amat?

“Sekali lagi maaf ya, Teh… maaf kalau selama ta’aruf ini saya punya salah ke Teteh dan keluarga” dia masih saja minta maaf, dan aku masih saja belum bisa berkata apa-apa. Padahal aku ingin mengatakan : ya, tidak apa-apa. Tapi koq, keluuuu…!

Sahabatku yang duduk tak jauh dari kami belum berkomentar, karena ia sedang menyimak hal lain dengan mamaku.

Ya ampun! Ayolah Je, katakan kalau ini tidak apa-apa…  lagi, suara hatiku mencoba menguatkan. Baru saja aku akan mengatakannya… Dia keburu memotong dengan kalimatnya.

“Maaf, karena saya punya rencana lain,…”

Sudah hampir jebol waduk air mataku. Perih. Aku mulai tak konsen dengan apa yang dikatakannya.

“… rencana ini sudah disetujui orangtua saya, maaf kalau Teh Dj tidak berkenan…”

Aku sudah pasrah. Dari awal aku sudah mengomitmenkan diri, bahwa tak apa kalau kita tak jadi melanjutkan ke jenjang berikutnya. Kita masih bisa menjadi saudara, bisikku dalam hati.

Tanpa menunggu tanggapanku dia melanjutkan kalimatnya.

“…saya ingin melamar Anti.”

DEG!

Apa aku salah dengar? Dia bilang apa barusan? 

Aku menoleh ke arah seberang di mana dia duduk. Dahiku mengernyit. Dia malah mengangguk. Meyakinkan bahwa apa yang ku dengar itu benar. Dia ingin melamarku. Dia ingin mempersuntingku. Ya, berarti maksudnya untuk menyudahi masa ta’aruf ini adalah untuk ke tahap selanjutnya???

Aku bertanya tanpa suara. Dia mengangguk sopan.

“Iya maksud saya menyudahi ta’aruf ini, adalah karena saya ingin melamar Anti… Kalau Anti tidak keberatan, minggu depan keluarga saya akan datang ke sini untuk melamar. Jawabannya nanti saja ketika lamaran. Terserah keputusan Anti” Dia tersenyum-senyum. Mungin senyum untuk dua hal. Pertama, karena dia berhasil mengutarakan niatnya. Yang selanjutnya, senyum karena caranya menyampaikan telah sukses membuatku merasa SURPRISE!!!

Dalam hitungan kilat, aku melemparkan plastik merah yang tadi kupegang. Maluuuu! Karena pikiranku sudah menjalar kemana-mana. Aku menutup muka. Dia terkekeh-kekeh. Air mataku sudah tak bisa ditahan. Jebol, campur aduk rasanya. Terharu juga gemas. Dia hobi sekali membuat surprise! Dan hatiku meleleh seperti coklat yang dipanaskan, tapi juga adem seperti makan eskrim di siang hari…
Ya Allah… tadinya kupikir, ini ulangtahun yang ironi, ternyata istimewa sekali. Hatiku lumer.

Kunjungan yang direncanakanpun tiba. Ahad sebelum Ramadhan, bersama anggota keluarganya dalam kunjungan ketiga, dia meminangku. Dan dengan ditemani keluargaku, aku menerimanya, Bismillah… :)

belajar dari istilahnya habibie dan ainun:

masalaluku adalah milikku, dan masalalumu adalah milikmu. Tapi saat ini dan masa depan adalah milik kita…

:)

Walau banyak rintangan yang menghadang juga menggoda, kita bisa melaluinya dan akhirnya, hari itupun tiba… alhamdulillah. ^_^

Dia…

Sejak aku lahir, laki-laki yang paling ganteng sedunia adalah bapakku. Karena, dalam keluargaku hanya ada aku anak semata golek dari mama dan bapak. Namun, sejak tanggal 18 Oktober 2013, bapakku harus rela tidak lagi menjadi satu-satunya makhluk terganteng dalam hidupku, yakni sejak datangnya seorang pangeran berjas abu-abu pada hari Jumat itu. Pangeran yang otomatis menjadi menantu bapakku, setelah ijab kabul berlangsung. Pangeran yang kemudian dalam hitungan detik dalam akad itu, membuat duniaku berubah. Total. Dari asuhan mama bapakku, ke asih dan asuhan dirinya, dari tanggungjawab kedua orangtuaku beralih ke tanggung jawabnya, yakni suamiku.

Tangis haru meluber di taman itu. Doa-doa menghantar kami. Hatiku basah, betapa Allah menyayangiku.
Saat istimewa di mana Allah menjamu tamunya yang kelelahan setelah berhaji, aku pun mendapat hidangan hadiah yang tak terkira berharganya. Mendapatkan suami yang soleh, alhamdulillah. Maka di bulan saat Negeri Sakura sedang musim gugur, hatiku justru sebaliknya, bersemi indah.

Ya, mulai tanggal 18 Oktober 2013 bertepatan dengan hari tasyrik ketiga bulan Dzulhijah, aku tak lagi lajang. Aku telah berpasang. Dengan seseorang yang di hadapan penghulu dan semua mahkluk yang hadir kala itu, juga dihadapan Allah dan RosulNya serta para malaikat, telah berjanji setia menemaniku hingga ahir hayat, dan berharap sampai di surgaNya. Begitupun janjiku. ‘Arsy bergetar. Langit dan bumi menjadi saksi. Semoga Allah menguatkan dan melanggengkan ikatan suci ini. Aamiin.
Semoga Allah mengaruniakan keturunan yang shaleh dan shalehah, dan menjadikan kami keluarga yang sakinah mawaddah warahmah, selalu. Dan memberkahi perjalanan biduk rumahtangga kami ini sampai ke surga dan RidhoNya. Aamiin.

Semoga Allah menjadikan diriku sebaik-baik perhiasan dunia ahkirat untuk dia… yakni suamiku tercinta, Abdul Aziz Jaelani :)

Bahagia; nama lain dari Lega


Bahagia adalah, ketika orang yang mencintaimu –namun kau tak mencintainya-, telah menemukan kebahagiaan sejati bersama pasanganya. Sehingga, kau tak lagi risau dengan cinta tulusnya yang dulu kau tolak, karena memang ternyata ketulusannya kini jatuh pada orang yang tepat.

Aku menghembuskan nafas lega.

Lega selega-leganya, ketika sepasang mataku, mengeja tulisan dari seorang kakak-Setidaknya dulu pernah kuanggap sebagai kakak- yang menjelaskan bahwa dia kini bahagia dengan istrinya. Syukurlah. Karena aku ngeri membayangkan, mungkin jika dulu ia “jadi” denganku, ia tak akan sebahagia ini dengan segala kekurangan hidupku yang tak pernah ia tahu, dan aku memang tak berniat memberitahunya karena toh dari awal aku hanya menganggapnya sebagai seorang kakak, tak lebih.

Dulu, aku bukan tak percaya dengan segenap ketulusan yang ia miliki, aku hanya tak bisa membuka hatiku untuk menempatkannya menjadi calon imam hidupku. Cinta tak bisa dipaksa, ‘kan?

Kini aku tersenyum lega.

Meskipun pada awalnya, dulu aku berat mengatakan tidak bisa menerima tawaran pinangannya. Berat, karena bagaimana mungkin aku membuat hatinya yang lembut itu, menjadi hancur? Berat, karena bagaimana mungkin aku bisa menemuinya di hatiku yang juga sedang hancur kala itu? Berat, karena kehadirannya ada di saat yang belum tepat –yakni saat aku belum bisa sepenuhnya mengikhlaskan kegagalan pinangan masalaluku.

Kini aku tersenyum lega.

Semua tak terasa berat lagi, terlebih ketika akhirnya dia mengundangku dalam acara walimahannya. Dan aku bisa beranjak menghadirinya, dengan izin Allah, tentu saja. Meski pada awalnya, aku sempat berburuksangka, tentang mengapa ia menghapus akunku dalam pertemanannya di salah satu jejaring sosial, dunia maya. Hingga aku mengerti, itu mungkin salah satu caranya untuk menghapus luka diingatannya tentangku. Yah, cara orang dewasa menghapus masa lalunya memang sering tak seenjoy anak kecil. Dan aku merasa aku begitu anak kecil. Hahaha.

Kini aku tersenyum lega.

Kakakku –dulu- itu sudah bahagia, dengan kini tidak lagi menganggapku adik. Adik yang kurang ajar karena berani menolak cintanya. Hehehe. Kakakku –dulu- itu sudah punya masa depannya yang lebih indah. Kakakku –dulu- itu akhirnya mengerti bahwa dibalik sakit hatinya ditolak oleh anak cupu sepertiku, ia justeru mendapatkan bidadari yang sudah sepantasnya ia dapatkan seperti sekarang ini.

Kini aku tersenyum lega.

Ketika aku sudah bisa berdamai dengan masalaluku, dan menyambut masa depanku dengan penuh ketenangan. Ketika aku sudah bisa berdamai dengan kegagalan hidupku, dan menerima kenyataan bahwa aku masih punya harapan untuk lebih bahagia dari hidupku sebelumnya.

Dan aku amat tersenyum lega, ketika kelak, imamku adalah orang yang mampu menerima segala kekurangan yang ada di dalam diri dan hidupku. Imam yang mampu membuat hatiku selalu bersyukur atas apapun yang digariskanNya.

Intinya satu hal, bahwa jodoh memang rahasia Tuhan. Dan karena rahasia itulah, ikhtiar harus tetap jalan, begitu pesan salah satu rekanku.

Kini selain memperbaiki diri, aku hanya bisa berdoa;

Ya Allah… jika memang dia yang tertulis di lauh mahfudz untukku… maka, sungguh, tak kan ada yang bisa menghalangi kehendakMu agar kami bersatu.

Namun, jika memang bukan dia yang tertulis di lauh mahfudz untukku… maka, sungguh, aku berlindung padamu dari segala kedzaliman diriku.

Aamiin.

Dan aku, sungguh telah bisa tersenyum lega, lega selega-leganya kini, esok dan seterusnya. insyaAllah.

:)

Dan lebih lega lagi, ketika akhirnya, studiku telah selesai di jenjang yang baru saja kujalani. Semoga, bisa melangkah ke jenjang studi selanjutnya. Aamiin.

Maka pada akhirnya, bahagia adalah, ketika kita bisa berbaiksangka terhadap apapun skenario(takdir)-Nya.

“Ya Allah, lancarkan dan berkahkanlah segala urusanku, mengenai dunia maupun akhiratku. Aamiin.”

 

 September menjelang Oktober ;)

Djayanti Nakhla Andonesi

 

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,368 other followers