PLN, Kau tak ‘sendirian’

Tags

, ,


Adalah kebutuhan vital saat ini, mengenai listrik. Dan sudah barang tentu, berbicara listrik di negara kita erat kaitannya dengan PLN. Karena Perusahaan Listrik Negara ini, bertugas untuk mengelola listrik yang ada di negara kita tercinta, Indonesia.

Sejauh ini, kinerja salah satu Badan Usaha Milik Negara ini sudah optimal, hanya perlu diperbaiki lagi. Mengingat, banyaknya pertimbangan yang kadang mengagetkan sebagian masyarakat, dengan adanya pemadaman bergilir. Yang jadi masalah adalah, seringkali, pemadaman itu tanpa konfirmasi kepada masyarakat. Sekalipun konfirmasi, pemadamannya berlangsung sering dan tidak sebentar. Seperti yang terjadi di kediaman teman saya, di daerah Borneo, misalnya. Saya sendiri, yang tinggal di Karawang, sering mengalami hal yang sama.

Hal itu, tentu saja membuat aktifitas individu atau masyarakat yang berkaitan dengan kelistrikan menjadi terhambat. Apalagi jika dalam skala yang besar, seperti pabrik atau home industry, yang akan kelabakan jika mengalami pemadaman mendadak. Jangankan yang mendadak, yang dipadamkan secara terjadwalpun, pasti akan mengalami kerugian yang signifikan. Dalam kata lain, secara langsung maupun tidak langsung, akan berpengaruh pada laju perekonomian masyarakat.

Untuk itu, dalam blog ini, penulis ingin menuangkan ide atau segenap saran untuk PLN, untuk menjadikan PLN semakin kece.

Pertama. Sumber daya Indonesia, seluruh dunia pun tahu, sangatlah berlimpah. Termasuk sumber daya alam yang menunjang pasokan tenaga listrik. Ambil contoh, kita dapat menggunakan, air laut yang melimpah, jika memang pasokan batubara sudah minim. Bukankah negara kita penuh dengan air laut? Jadi, tidak ada alasan tak ada pasokan ketika musim kemarau tiba.

Kedua. Kita bisa mengandalkan musim hujan. Memang, hujan seringkali identik dengan banjir. Namun, jika kita mau membuka mata lebih jeli, ada potensi yang berharga di balik banjir yang terjadi. Mungkin, kita bisa merubah cara pandang kita terhadap banjir yang sering terjadi di beberapa bagian negara ini. Banjir yang biasa terjadi, tidak lagi menjadi momok. Karena di satu sisi, kita bisa menggunakan kincir angin, untuk membangkitkan tenaga listrik dari sumber daya air yang datang tak diundang itu, alias banjir.

Kedua hal itu, bila dapat dioptimalkan dengan baik, maka tak akan ada alasan lagi, pemadaman listrik mendadak akibat tak ada pasokan tenaga.

PLN tentu saja tidak bisa bekerja sendirian. Maka dari itu diperlukan kesadaran masyarakat, untuk berpastisipasi aktif dalam menggunakan energi listrik ini secara hemat. Agar keberlangsungan nyawa listrik yang ada di Indonesia ini, dapat berjalan dengan baik. Nah, untuk membuat masyarakat semakin banyak yang menyadari akan pentingnya menjaga energi listrik dengan baik, PLN bisa membuat perlombaan yang kontinu untuk masyarakat umum. Seperti, membuat lomba kreatifitas dalam menghemat listrik di rumah, selain metode umum menggunakan listrik seperlunya. Hadiahnya juga yang menarik, agar masyarakat termotivasi untuk tak hanya menghemat energi listrik yang berharga bagi semua ini, namun juga menciptakan sesuatu yang baru, layaknya ilmuwan-ilmuwan yang termahsyur itu. Karena bukankah sebenarnya, masyarakat Indonesia adalah orang-orang yang cerdas?

Dan di usia PLN yang semakin dewasa ini, semoga semakin lebih baik lagi dalam menjalankan amanah dan mengabdi pada negeri. Dan sebagai penduduk negeri ini kami menemani dan mengawasi. Jangan khawatir PLN, kau tak sendirian.

Wisuda


Tak terasa. Biasanya itu yang sering terucap. Dan memang kenyataannya begitu. Waktu begitu cepat berlalu.

Perjuangannya selama ini, menempuh jenjang pendidikan di strata satu, akan segera berakhir. Ya, Wisuda. Suamiku sabtu ini akan diwisuda. Alhamdulillah…

Aku tahu perjuanganmu berat sayang, dan selamat wisuda. Semoga ilmu yang kau dapat semakin berkah dan bermanfaat.
:)
Aku bangga padamu, suamiku. Love you

Wisuda


Tak terasa. Biasanya itu yang sering terucap. Dan memang kenyataannya begitu. Waktu begitu cepat berlalu.

Perjuangannya selama ini, menempuh jenjang pendidikan di strata satu, akan segera berakhir. Ya, Wisuda. Suamiku sabtu ini akan diwisuda. Alhamdulillah…

Aku tahu perjuanganmu berat sayang, dan selamat wisuda. Semoga ilmu yang kau dapat semakin berkah dan bermanfaat.
:)
Aku bangga padamu, suamiku. Love you <3

Dialah…


Sumbangannya tidak main-main, dalam mengembangkan bidang pertanian dan peradaban Mesir. Dengan dua anak yang mengalir dari rahimnya, yang dikenal dengan tambahan nama Putih dan Biru di belakang nama aslinya, dia mampu membuat penghuni bumi terpukau, tak hanya karena fungsinya tapi juga karena pesonanya. Terlebih karena sejarah yang terlalu istimewa berada di belakang riwayat hidupnya. Ya, dialah… sungai Nil.

Menurut mitos, sebagaimana yang diterangkan oleh wikipedia online, air sungai yang mengalir tersebut adalah air mata Dewi Isis yang selalu sibuk menangis dan menyusuri sungai Nil untuk mencari jenazah puteranya yang gugur dalam pertempuran. Namun secara ilmiah, air tersebut berasal dari gletser yang mencair dari pegunungan Kilimanjaro, hulu dari sungai Nil.
Karena tak ada yang sia-sia dari ciptaan Allah, maka fenomena banjir tahunan dari Sungai Nil itu, membuat tanah yang ada di sekitar lembahnya menjadi subur. Kesuburan itu pulalah yang membuat masyarakat sekitar lembah tergerak untuk bertani. Kemudian air sungai Nil itu sendiri digunakan sebagai irigasi dengan saluran air, terus-terusan dan waduk. Selanjutnya, air sungai Nil dialirkan ke ladang-ladang milik penduduk dengan distribusi yang merata. Hasil pertanian Mesir di antaranya gandum, sekoi atau jamawut dan jelai, yakni padi-padian yang biji atau buahnya keras seperti jagung. Dan untuk memutar roda perekonomian, rakyat Mesir menjalin hubungan dagang dengan menjual hasil produksinya, di antaranya kepada Funisia, Mesopotamia dan Yunani. Biasanya dilakukan di kawasan Laut Tengah. Maka, peradaban dan perkembangan budaya pun dimulai.

Terlepas dari benar atau tidaknya mitos tersebut, Sungai Nil memang sangat berperan bagi lahirnya kehidupan masyarakat di lembah sungai tersebut. Maka tak heran bila Herodotus mengatakan: Egypt is the gift of Nile, Mesir adalah hadiah Sungai Nil.
Indonesia perlu belajar dari sungai Nil, karena sungai terpanjang kedua di dunia sekaligus bermuara di Laut Mediterania ini, sangatlah rapi dan bersih. Di sana kita bisa merefresh pandangan kita. Tentu saja tak lupa untuk menambah syukur akan kekuasan Allah atas sajian alamNya yang menakjubkan.

Yang menarik selanjutnya dari sungai Nil, seperti yang dijelaskan Rahima Rahim yang sedang kuliah S2 di Mesir, bahwa siapa saja yang pernah minum air sungai Nil, insyaAllah akan kembali lagi meminumnya untuk yang kedua kalinya. Dengan arti kata, siapa saja yang pernah sekali datang ke Mesir dan menetap di sana beberapa lama, maka dia akan kembali lagi mengunjungi Mesir walaupun sudah pulang ke negara asalnya. Mitos ini, memang tak bisa dijadikan hujjah. Tapi sering kali benar adanya.

Sungai Nil

Nah, apakah Anda ingin meminum air sungai Nil? Kalau saya ingin.
Semoga suatu saat kesampaian kesana, ketika suasana negara Mesir kembali aman, damai, dan menyenangkan :)

Djayanti Nakhla Andonesi

Tak hanya untuk Ibu Hamil!

Tags


Judul buku : Ajaibnya Gerakan Sholat bagi Perkembangan Janin
Penulis : Khalid Fauzi Abbas
Penerbit : DIVA Press
Tahun Terbit : Cetakan I, Agustus 2013
Tebal : 226 Halaman
Harga : RP. 34.000,-

Ternyata tidak sekedar sebagai tiang agama. Sholat yang telah diwajibkan untuk hamba Allah Swt. melalui peristiwa Isra’ dan Mi’raj Rosulullah Saw. Ini mempunyai esensi yang luar biasa berharga. Selain untuk mencegah perbuatan keji dan munkar, bila didirikan dengan khusyuk, gerakan sholat pun memberikan kontribusi yang besar untuk perkembangan psikis maupun fisik manusia.
Tak terkecuali untuk wanita yang sedang hamil. Sholat yang dikerjakan dengan khusyuk, tenang atau tuma’ninah, tidak asal jungkal-jungkel, dan tertib, ternyata memberi pengaruh yang luar biasa bagi kesehatan, yang telah diteliti oleh banyak ahli. Selain juga memberikan pengaruh positif bagi ketenangan batin.

Sebagaimana judulnya, buku ini membahas berbagai keajaiban-keajaiban gerakan sholat (yang sudah diteliti dan teruji juga terbukti), dan pengaruhnya pada keadaan psikis dan fisik kita. Khususnya untuk ibu hamil. Dijelaskan pula, makna filosofis dari setiap gerakan sholat. Sehingga, kita lebih memaknai ibadah sholat kita.

Buku ini pun dilengkapi dengan berbagai contoh masalah yang sering dialami oleh sebagian besar ibu hamil, yang dapat diatasi atau diminimalisir dengan gerakan sholat. Disertai tips-tips yang tak kalah penting untuk ibu hamil dan perkembangan janin. Di antaranya, seperti anjuran membaca doa yang telah diajarkan dalam Al-Quran dan Hadis.

Dan, yang paling penting dari itu semua adalah, buku ini juga mengajak pembaca untuk tetap meluruskan niat lillahi ta’ala. Karena meskipun kita telah mengetahui manfaat yang luar biasa dari ibadah sholat, kita tidak boleh meniatkan diri untuk sekedar mendapatkan kepuasan dalam kesehatan, melainkan hati dan pikiran kita harus fokus, benar-benar ikhlas ibadah karena Allah Swt. Saya yang sedang hamil saat ini pun, menjadi lebih termotivasi untuk memperbaiki niat dan keikhlasan.

Menurut saya, kaver buku cukup menarik dan meneduhkan, sebagaimana isinya. Dari sistematika penulisan, buku ini sangat rapi dan runut. Diksinya mudah dipahami, sumber referensinya pun jelas dan valid. Sehingga pembaca tidak akan repot mencari validitas dari apa yang dipaparkan penulis.
Betapa Allah sangat menyanyangi kita sebagai makhluknya. Setiap apa yang diperintahkan dan dilarang-Nya, mengandung manfaat yang luar biasa bagi kita. Buku ini menjadi referensi bagi siapa saja yang ingin mengetahui dan merenungkan kebesaran dan kasih sayang Allah Swt.. Sehingga, cocok untuk dibaca tak hanya untuk ibu hamil, ataupun wanita saja, melainkan untuk masyarakat luas. Selamat membaca!

note : karena sedang tak bisa upload foto, maka cover bisa dilihat di sini :

Setelah sepuluh tahun ‘puasa’

Tags

, , , ,


Wow! Alhamdulillah, keren!

Merindiiiing pas baca beritanya di media-media online. Terharu! Akhirnya setelah redup selama ini, Indonesia bisa bersinar kembali di All England. Ajang olahraga paling aku sukai. Meskipun kali ini, untuk kategrori tunggal belum beruntung, tapi itu tak mengurangi rasya syukurku khususnya sebagai badminton lovers, dan masyarakat indonesia umumnya.

Ingatanku kembali melayang pada nama Rudy Hartono. Legendaris bulu tangkis. Master raket dunia. Yang berhasil mengharumkan nama Indonesia, dengan prestasinya yang luar biasa, 8 kali (7kalinya berturut-turut) menjadi juara All England, dan beberapa kali merajai Thomas Cup. Kemudian, adik-adik penerusnya, yang bermain tunggal meski belum se’master’ Rudy Hartono, tapi mampu menjadikan Indonesia sebagai juara dunia pada zamannya. Mereka adalah; Liem Swi King, haryanto Arbi, Icuk Sugiarto, Susi Susanti, Alan, Taufik hidayat, dll.

Tidak terasa, saya menangis saking terharunya. Karena sekarang ini, tim ganda sedang cemerlang, alhamdulillah. Hendra dan Ahsan, telah membuka ‘puasa’ gelar di All England selama sepuluh tahun terakhir ini, untuk tim ganda putra. Menambah kesyukuran atas kemenangan Indoneisa pada ganda campuran atas Tontowi Ahmad dan Lilyana Natsir.

Well, bagaimana dengan nasib atlet tunggal badminton kita? Semoga bisa kembali cemerlang, minimal sama dengan prestasi Rudy Hartono. Apa bisa? Tentu saja, because nothing impossible, right? ^_^

Kita bantu doakan juga ya! Supaya, PBSI semakin berbenah, prestasi atletnya semakin mewah, dan Indonesia tak lagi jengah. ^_^

Image

at home, 10-03-14

Being a Mom is amazing

Tags

,


Well, baru kali ini, keypad notebookku merasakan kembali sentuhan jemariku (halah lebay :P), setelah sekian lama fakum dari dunia persilatan eh penulisan. Karena, semenjak dianugerahi Allah sebuah titipan yang luar biasa berharganya, aku harus bedrest. Mual muntahku parah sangat. Sampai engga bisa beraktifitas apapun. Istilah kedokteran adalah hiperemesis.

Awalnya, tak ada mual muntah itu. Yang kurasakan bulan pertama –yang saat itu aku belum tahu kalau aku sudah ‘ngisi’, hanyalah lemas, cepat drop, dan sensi; gampang tersinggung, mellow banget deh, misal nih ya, dijailin/dibecandain dikit langsung marah dan nangis hahaha. #banyak istigfar dah.

Terus, ada yang unik saat aku mengetahui bahwa aku sudah ‘ngisi’. Begini, siklus haidku bisa dibilang teratur. Dan entah mengapa, pada Desember, yakni genap dua bulan usia pernikahanku, aku hanya mengeluarkan flek saja. Dan itu terjadi kurang lebih selama seminggu. Tidak seperti haid biasanya.  (eh sorry kalau yang baca ini cowok, cukup tahu aja ya, buat wawasan siapa tahu istri kalian nanti punya tanda-tanda yang sama, hehe).

Aku panik dong. Takut kenapa-kenapa sama kesehatanku. Alhasil, aku search di web. Tanda-tanda kehamilan itu apa saja, apakah flek termasuk ke dalam tanda-tandanya? Dan, iya ternyata. Aku penasaran, akhirnya sepulang kerja, aku minta diantar suamiku ke apotek, membeli TP.

Sampai di rumah magrib, for your info; karawang sekarang macet gila. Jam setengah tujuh petang, aku TP, untuk pertama kalinya. Sambil menanti hasil TP, dalam hati aku tidak terlalu ‘ngotot’ supaya hasilnya positif. Aku ikhlas apa saja yang akan ditampakkan si TP tersebut. Tidak sampai lima menit, hasilnya sangat jelas terlihat. Garis dua! Aku ingin melonjak saat itu. Tapi, karena ini pengalaman pertama, aku belum sepenuhnya yakin dengan hasil tersebut. Maka dengan polosnya, aku meminta mama untuk menjelaskan hasil tersebut, meskipun dipanduan TP pun sudah jelas bagaimana cara membacanya. Dan, mamaku bilang, alhamdulillah…

Karena, TP yang aku pakai saat itu, yang harganya kurang dari harga membeli seliter  bensin. Jadi, rasanya kurang yakin. Hehe. Jadi,  sepupuku yang saat itu juga sedang main ke rumahku, kuminta menjelaskan hasilnya. Diapun bilang, wah selamat ya neng…

Dua orang sudah yang meyakinkanku akan hasil penelitian si TP. Smspun ku layangkan pada suamiku, yang kebetulan setelah sholat magrib itu langsung meluncur ke sekolah, karena harus mengikuti perkemahan. Dia senang tapi masih belum yakin, beneran sayang? Alhamdulillah….

Kemudian, aku mendapatkan info, bahwa sebaiknya TP itu pagi hari. Aku pun jadi penasaran lagi. Resah kalau sampai hasil Tpku petang hari itu salah. Ditambah Tpnya harga yang standar. Gimana dong? Akhirnya kami memastikan dengan pergi ke bidan terdekat. Dan beliau bilang, iya atuh ini mah positif…

Dua hari setelahnya, untuk lebih meyakinkan kembali, kami pergi ke rumah sakit, untuk di USG. Dan alhamdulilllah, dari hasil USG sudah terlihat kantung janin. Berarti sudah 4 minggu usia janinku saat akhir desember itu.

Nah, pas awal januari…. Hm, udah deh, mulai mual-mual, dan juga muntah-muntah! Bahkan pernah muntah mengeluarkan darah, saking terlalu seringnya muntah sehingga lambungku yang memang sebelumnya sakit maag, menjadi semakin parah. Wuah! Akhirnya akupun dirawat di rumah sakit. Hehe, seumur-umur baru kali ini aku merasakan ‘hotel’ yang dihuni oleh banyak pasien. Hehe.

Aku pikir hanya sebentar, ternyata Allah punya rencana lain. Sakitku tak juga sembuh. Bahkan sudah lewat februari begini. Orang bilang; bawaan orok. Mual muntahku belum juga reda, sampai aku tak lagi masuk kerja. Ya, bagaimana mau kerja, wong Cuma mau berdiri dan jalan aja engga kuat! Ngedrop banget. Sering demam juga. Bahkan, makanan jarang ada yang masuk, sekalinya masuk langsung muntah lagi. Berat badan dan tensi darahku menurun drastis. Dan hidungku ini menjadi sensitif betul, tidak tahan dengan bau-bauan. Hahaha. Lucunya, semua makanan favoritku, berubah menjadi makanan yang ingin kujauhi, karena terasa bau menyengat. Tidak kuat! Padahal kalau kata orang lain mah, engga bau. Aneh memang. Belum lagi kondisi emosiku, yang sensitif luar biasa, kalau istilah populernya adalah labil. Ehehe.

Kata dokter, usia trisemester pertama kehamilan, bagi sebagian wanita memang begini. Rata-rata bisa ‘biasa’ lagi bila kandungan sudah berusia 4 atau 5 bulanan. Meskipun memang kondisi setiap orang berbeda, ada yang hiperemesisnya berlangsung sampai melahirkan. Ada juga yang bahkan sebagian wanita tidak hiperemesis sama sekali.

Hm, nano-nano deh rasanya. Tapi apapun ya, mungkin inilah cara Allah agar aku senantiasa belajar sabar dan bersyukur. Karena di balik hiperemesis ini, Allah punya kebahagiaan yang tak terhingga yang diberikanNya padaku, insyaAllah. ^_^  Dan aku jadi semakin sayang sama mama. Ternyata being mom is amazing ^_^

Image

Kalau kemarin-kemarin aku engga bisa ngapa-ngapain, Alhamdulillah sekarang ini, pada detik aku menulis ini, aku sudah mendingan. Tapi masih harus banyak istirahat. Belum bisa beraktifitas terlalu banyak. Doakan ya, semoga bisa segera pulih, setelah dua bulan terakhir lebih ini mengalami tantangan yang luar biasa. Alhamdulillah, suami, keluarga, sahabat, dan orang-orang di sekitarku selalu memberikan support, bantuan dan nasehat-nasehatnya. Semoga lancar sampai kelak bisa melahirkan dengan normal. Aamiin.

Nah, untuk para gadis, jangan cemas ketika jadi istri nanti bila dititipi anugerah hamil dengan kondisi hiperemesis, tetaplah positif thingking, dan yang terpenting adalah sabar dan ikhlas. Everything cause Allah.

Untuk yang sudah menikah dan belum dititipi anugerah tersebut, jangan putus asa. Karena, Allah maha mengetahui waktu yang tepat untuk kita, dan Dia maha memulyakan kita dengan cara yang sesuai dengan kondisi terbaik kita.

Untuk anakku, jika kelak kau baca blog ini; Nak, Ibu ridho dan sayang padamu, love you <3

-Baiti jannati-

10 Maret 2014, empat belas minggunya usiamu Nak. ^_^

Indahnya (tempat) Ibadah

Tags

, , , , ,


Cirebon. Pernah berkunjung ke sana? Atau mungkin nyasar di sana? Hehe. Beruntunglah.  Karena, di sana bisa kita temukan sejarah peradaban Islam yang memesona. Khususnya di alun-alun kota. Siapapun akan tertarik matanya untuk memandang sebuah bangunan yang indah. Tak hanya indah, tapi juga memiliki nilai-nilai religi yang mengingatkan kita pada ibadah. Ya, dialah Mesjid At-Taqwa.

Bangunan yang sejak dulu saya rindukan itu, pada November lalu telah saya sambangi. Meskipun kedatangan saya pada kala itu, niatnya adalah untuk memenuhi undangan pernikahan kawan baik saya di bilangan Cirebon. Saya sendiri tak pernah menyangka sebelumnya bisa sampai di sana, di mesjid yang sudah lama saya ingin kunjungi. Saya bahkan hampir lupa, kalau bangunan yang saya ingin kunjungi itu ada di kota tempat kawan baik saya menemukan tulang rusuknya. Dan awalnya, memang tak ada dalam agenda kepanitiaan untuk sengaja mampir di Mesjid tersebut. Tapi itulah keajaiban niat, kata Mang Ajat, seorang kawan saya juga. Niat yang baik akan dipertemukan dengan sesuatu yang baik pula. Tentunya atas izinNya. ^_^

Image

Masjid ini, mulai didirikan di kampung Kejaksan pada tahun 1918. Wah, tahun segitu saya masih main di lauh mahfudz sepertinya, hehe. Kata Wikipedia[1] , Masjid yang awalnya diberi nama Tajug Agung ini, berhasil selesai didirikan seadanya pada 1951, yang kemudian diresmikan pada 1963 dengan nama Masjid At-Taqwa, menimbang mashlahatnya agar tak tertukar dengan Masjid Agung Sang Cipta Rasa –yang jauh lebih dulu didirikan di sekitar Keraton Kasepuhan .

Apapun jika Allah mengizinkan, maka mudah saja. Termasuk pemugaran Masjid At-Taqwa tersebut, seperti dilansir di sebuah situs[2], yang menyatakan bahwa renovasi paling update Masjid ini, memerlukan dana sekitar 9,2 Milyar. Wow! Luar biasa. Semoga semakin banyak orang-orang yang berbuat baik. Aamiin.

Akses jalan menuju Masjid ini, sangatlah mudah. Tentu saja, karena ia berada di Pusat kota, tepatnya melalui Jalan R.A Kartini ataupun Jalan Siliwangi. Tepat di pinggiran ujung selatan Jalan Siliwangi, akan kita dapati gapura bergaya kolonial, yang melengkung membentangkan nama “Alun-alun Kejaksan”.  Dan memang ketika kita masuk melewati akses itu, kita akan memasuki lapangan rumput yang luas, itulah Alun-Alun Kejaksan. Dan pada saat saya ke sana, alun-alun tersebut nampak sedang dipersiapkan atau mungkin telah dipakai untuk acara kerohanian Islam. Dan kebetulan, sepertinya hari itu juga sedang ada kegiatan walimatul safaratul hajj, karena saat itu banyak rombongan yang berseragam putih di Gedung Islamic Centre, yang berada persis di samping Masjid At-Taqwa ini. Atau barangkali, ada yang melangsungkan resepsi pernikahan di sana. Entahlah, yang pasti gedung tersebut memang dipakai sebagai gedung serbaguna.

Setibanya di pelataran Masjid yang berlantai batu granit, kita disuguhkan dengan pekarangan indah yang tidak biasa. Karena di sana terdapat tumbuhan asli dari Timur Tengah, yakni Kurma. Ada beberapa yang saya lihat berjejer rapi di samping Masjid. Menambah keunikan tersendiri, selain mata kita dimanjakan dengan apiknya susunan taman tersebut.

Image

Image

Hal menakjubkan lain adalah, pintu depan Masjid At-Taqwa ini, dihiasi oleh lempengan berwarna emas yang bertuliskan kaligrafi dua kalimat syahadat, yang menurut sumber terpercaya, terbuat dari bahan glass reinforced cement (GRC) di atas batu granit asli dari Brazil. Wow! Jauh ya…

Dinding Masjid ini juga terbilang unik, karena jendela besar-besar  dibiarkan terbuka, dan dibentuk dengan aksen yang unik. Sungguh multifungsi. Pertama, untuk membiarkan udara segar keluar masuk dengan mudahnya, dan kedua untuk menambah kesyukuran kita, bahwasannya, arsitektur muslim kita sangatlah hebat.

Image

Image

Akulturasi budaya yang canggih. Itulah kesan yang saya tangkap. Karena, selain yang saya sebutkan di atas, Masjid ini seperti ingin mengatakan pada dunia bahwa kreatifitas umat muslim sangat mumpuni. Terbukti dengan perpaduan gaya Timur tengah, yang terlihat dari banyaknya menara-menara di sekitarnya, dengan budaya Jawa yang kentara, yakni atap Masjid yang berbentuk atap bertumpang-tumpang. Dengan begitu, Masjid ini, juga seolah mengingatkan tentang bolehnya menyerap budaya luar, tapi juga penting untuk mempertahankan budaya sendiri selagi sesuai dengan tuntunan Islam.

Yang semakin memukau adalah, ternyata ada satu menara yang paling istimewa. Yakni yang menjulang setinggi 65meter. Barang siapa yang bisa sampai pada ujung menara ini, maka dia pasti akan puas melihat seantero Kota Cirebon dengan sangat indahnya dari berbagai sudut. Sayangnya, saat itu saya tidak bisa naik ke menara tersebut. Karena  menurut Bapak Fikiri, salah satu anggota DKM yang ternyata pernah berkunjung ke Karawang, menyatakan bahwa menara tersebut dibuka setiap pukul tiga sore, sedangkan saya saat itu berada pada waktu Dzuhur. Dan lebih sayangnya, saya lupa menanyakan lebih lanjut soal itu. Karena, jamaah yang mampir hendak solat, penuh sesak.

2013-11-24 11.44.41

Image

Tapi, bagi yang tak sempat naik ke menara seperti saya, masih bisa melihat hasil tingginya menara tersebut. Karena di dinding Masjid, tepatnya di Koridor menuju ruang wudlu, dipasang foto Kota Cirebon dari dua sisi, barat dan timur, hasil jepretan di atas menara. Syukurlah, tak terlalu penasaran saya. Meskipun memang, akan lebih seru lagi merasakan kemahakuasaan Allah di atas ketinggian 65meter tersebut. Kapan-kapan coba deh, insyaAllah. ^_^

Image

Image

Image

Image

Saya beruntung, meski tak sempat naik ke menara tersebut, saya dipersilahkan untuk memasuki perpustakaan Masjid yang ada di luar sudut ruangan. Setelah melewati Bedug yang khas di pinggir ruangan, terus saja berjalan ke paling ujung, setelah ruang wudlu. Maka akan kita dapati Perpus sederhana dengan isi yang luar biasa. Menarik sekali.

Image

Image

Image

Image

Siapapun yang berkunjung tak hanya disediakan fasilitas untuk ibadah Mahdzah, tapi juga untuk mengembangkan pendidikan, ditambah dengan adanya Islamic Centre di sisi timur Masjid ini. Hal ini mengingatkan saya, pada Mesjid Nabawi, di mana Nabi memfungsikan Masjid tak hanya sekedar tempat solat, melainkan juga untuk sarana pendidikan dan pusat kegiatan sosial keagamaan.

Image

Image

Luasnya bangunan ini, mampu menampung jamaah sebanyak 5500 orang. Bukan jumlah yang sedikit. Tak hanya untuk warga Cirebon, tapi juga untuk musafir seperti saya dan rombongan yang ingin mampir melepas lelah, atau yang lebih penting, untuk menunaikan kebutuhan solat. Oh iya, tak usah cemas. Karena, di depan halaman Masjid, berjejer rapi para pedagang makanan berbagai menu yang pengertian dengan kondisi perut kita. Juga pengertian dengan kantong kita, hehe, sehingga harganya relatif terjangkau. Saya dan suami, kala itu memilih menu Nasi Lengko, karena tak berhasil menemukan Nasi Jamblang Khas Cirebon.

Image

Yoweslah, yang penting makanannya halal dan bikin kenyang, sehingga perjalanan kembali lancar tak terganggu sirine perut keroncongan, hehehe. Semoga, someday, saya dan suami berkesempatan berkunjung ke sana, menjelajahi Wisata Religi lainnya, seperti Masjid Agung Cipta Rasa dan lain sebagainya. Dan yang lebih penting adalah, menambah kesyukuran kita pada yang Maha Menciptakan, yakni Allah ‘azza wa jalla. Semoga.

Image

Image

Karena zaman dulu, apa-apa serba terbatas. Maka pertanyaan selanjutnya yaitu, ketika Masjid-masjid sudah banyak yang indah, maukah kita juga mengindahkan akhlak kita? (PR bersama :) )


[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Masjid_At-Taqwa_Cirebon

[2]  http://wisataindonesia.biz/masjid-at-taqwa-ikon-baru-kota-cirebon/#.UsUfb_vC7Mw

[3] sumber foto : koleksi pribadi

Dokter Kharismatik ^_^

Tags

, , , , , , ,


 Ada

Lagi-lagi, aku harus berurusan dengan dunia medis. Entah sudah keberapa kali aku menyambangi klinik atau rumah sakit, mengalahkan ratingku berkunjung ke tempat pariwisata. Hadeh. Tapi, memang itu yang semestinya aku lakukan, untuk mengetahui ada apakah kiranya dengan diriku. Juga untuk membantuku segera sembuh.

Ditemani kesabaran suamiku, kami mencari klinik atau rumah sakit setelah hujan reda. Aku memilih rumah sakit yang berada di dekat rel kereta di bilangan johar. Setibanya di sana, gerimis kembali turun. Segera kami masuk ruangan. Rupanya sudah banyak perkembangan. Terbukti dengan adanya layout parkir dan pintu masuk rumah sakit yang baru. Syukur deh, jadi keluarga pasien atau bahkan pasien yang datang ke sana, tak kesulitan memarkir kendaraan. Tapi aku kecewa, ketika ternyata hari itu tak ada dokter yang sesuai untuk menangani penyakitku.

“Jadwalnya, Hari Senin, Rabu dan Jumat, bu.” Ujar seorang wanita yang jaga di bagian administrasi. Dan aku kesana tepat di hari Kamis. Oh, poor me! Yasudahlah. Akhirnya aku dan suami keluar dari ruangan yang didominasi warna crem dan hijau itu. Saat menaiki kendaraan, suamiku komentar. “Peraturan yang aneh.” Aku mengernyit. Lalu dia menunjuk papan tata tertib parkiran di sana. Yang digaris bawahi oleh suamiku adalah kalimat: kehilangan  tak menjadi tanggung jawab kami .

“Lalu, untuk apa kita bayar parkir (yang ditarif pula), coba?” dia berujar. Aku ikut mikir kemudian tersenyum, kritisnya suamiku. :)

Hari makin gelap, klinik mana ya yang terdekat? Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke rumah sakit di bilangan Kertabumi. Yang artinya, lebih jauh. Sebenarnya, bisa saja sih, kami memutar arah, kembali ke daerah Telukjambe, tapi berhubung di sana tidak ada jamsostek dari perusahaan dimana aku bekerja, dan sayang juga kalau plafon terabaikan saat dibutuhkan, maka meski cuacanya bikin galau, akhirnya kami tiba juga di bilangan Kertabumi. 

“Sholat dulu yuk.” Qawwam alias suamiku menyeru, dan aku setuju setelah memastikan bahwa dokter yang akan kami tuju, sedang berada di tempat.

Alhamdulillah, tak terlalu lama kami duduk di depan meja administrasi untuk dipanggil mendapatkan tiket masuk :D. Oh ya, terakhir ke rumah sakit ini, ketika hari minggu. Saat kami menjenguk teman. Kali ini, aku yang malah jadi pasien. Hoho. Dunia cepat sekali berputar.

Sesampainya di ruang dokter yang kami tuju, aku langsung diperiksa tensi darah. Setelah itu kembali aku melakukan pekerjaan yang Imam Robandi bilang adalah salah satu budaya melatih kecerdasan emosional, yakni mengantri.

Sang suster dengan ramah tersenyum pada kami. Dan sedekahnya itu, membuatku lebih nyaman meski harus menunggu, selain tentu saja karena adanya suamiku. Hehehe. Sambil menunggu, aku memperhatikan dengan seksama (dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya :D) bangunan rumah sakit ini. Ada banyak ornamen dan symbol agamis, seperti kaligrafi yang dicetak besar di sudut ruangan. Kesan yang ku tangkap adalah, pemilik maupun karyawan rumah sakit sini pastilah mengerti agama dengan baik. Selain itu, ada juga tata cara yang berkaitan dengan dunia medis yang ditempel di dinding ruangan. Seperti cara mencuci tangan yang baik dan benar. (yaiyalah, masa iya yang ditempel itu cara memasak? :D emangnya tempat kursus :P?!)

“ Djayanti.” Panggil suster itu akhirnya, pintu ruang dokter dibuka.

“Oh, sepertinya sudah pernah ke sini ya.” Ujar sang Dokter. Wah, rupanya beliau masih ingat. Ya iayalah! Kan waktu dulu aku juga pernah berobat ke sini, jadi otomatis ada lembar riwayat pasien. Hm, satu hal yang aku sukai di rumah sakit ini, mananejem dokumennya bagus.

“Pas ke sini, bulan Mei yang lalu ya.” Dokter yang bergelar SpPD itu memulai percakapan dengan senyum. Aku mengangguk. Sama seperti dulu, ternyata dokter ini masih ramah saja. Konsisten dalam kebaikan. Yang terlihat berbeda, hanyalah jumlah uban di kepalanya. Semakin lebih banyak. Usia memang merambat lebih jujur.

Suaranya yang mungkin dulunya adalah vokalis itu (sotoy :D), terdengar renyah menanyakan apa saja yang aku rasakan, untuk kemudian diperiksa lebih lanjut. Suamiku mengamati dan ikut memberikan informasi, pada setiap pertanyaannya sebagai ahli medis.

“Periksa darah, dan tes urin dulu ya.” Seru dokter berkacamata tebal itu. Aku agak khawatir, karena tak siap bertemu dengan jarum suntik. Payah! Hahaha.  

“Setelah itu, kembali lagi ke sini.” Lanjutnya, setelah menjelaskan rute menuju laboratorium.  

Lintas Budaya

Di depan laboratorium, tak hanya kami, orang pribumi yang menunggu untuk diperiksa. Tapi, sepasang suami istri, yang kata suamiku bahwa mereka adalah orang India, juga sedang menunggu hasil laboratorium. Wow! Keren ya, daerah lokal, tapi pasiennya ada yang asing.

“Tahu dari mana mereka orang India?” aku memastikan asumsi suamiku.

“Dari bahasanya, Neng.”

“Oh…” aku percaya, karena suamiku memang sempat mengenal bahasa negaranya Sahruk khan tersebut. Lagi pula, memang sih, tanpa harus mendengar obrolan merekapun, pada kenyataanya, secara penampilan, baik gesture wajah maupun tubuh, mereka cukup menjelaskan identitas itu. Cuma yaaa, tadinya kufikir, siapa tahu aja mereka itu orang Ambon, hehehe. Dan karena ciri-cirinya yang mirip orang Ambon itu, maka bisa ditebak, mereka adalah India dari golongan dravida.

Andaikan aku Fitri Tropica, yang punya tingkat PD di atas rata-rata, aku pasti mengajak mereka kenalan. Kapan lagi coba, bicara dengan orang asing? Hehe. Apalagi ini orang dari bangsa yang pernah meramaikan Indonesia pada zaman pra-kemerdekaan melalui perdagangannya. Tapi sayangnya aku bukan Fitri Tropica, juga tak mengerti bahasa mereka. Jadi, apa mau dikata? (Haha, dudul. :D)

Parno (takut)

“Aku cuma engga mau bikin Aa khawatir.” Jawabku, saat suamiku bertanya, tentang beberapa hal yang aku rasakan tapi tidak aku ceritakan. Tapi pada akhirnya, aku cerita juga. Hehe.

Sabar mendapat panggilan, lebih aku sukai daripada dipanggil itu sendiri. Karena artinya, aku akan bertatap wajah dengan jarum suntik. Huaaa…. >.<

Sebenarnya aku tidak takut dengan jarum suntik, aku hanya khawatir jika ujung jarum itu menembus kulitku. (wkwkwk podo bae atuh jee… :P)

“Jangan tegang.” Rupanya, dokter yang juga berkacama itu, membaca raut wajahku.

“santai aja…” lanjutnya tak lupa melempar senyum. Aku sendiri, meringis. Belum juga sampai itu jarum ke kulit, aku sudah takut duluan. Wew!

“Aku emang parno bu, kalau disuntik. Di pabrik aja, pas medical chek up, suster-susternya sampai hapal. Kalau aku adalah orang yang paling tegang kalau disuntik. Tapi untungnya tidak sampai pingsan sih bu, hehehe.”karena ibu dokternya pendiam, maka  aku nyerocos mengalihkan perhatian dari si jarum suntik yang sudah siap menyedot darahku, Ibu dokter tersenyum.

Bismillah, bismillah… dalam hati aku berucap. Berusaha membuang ketakutanku. Tak lama, semut nakal menggigit lengan kananku. Oh, bukan dink, itu sedang disuntik. Tapi aku tak berani melihat. Ah dasar, aku memang tak ada bakat menjadi dokter. Hahaha. Mendadak, aku teringat ilmuwan Ahmad Thoha Faz, yang mengatakan, sebenarnya, keberanian bukan ketiadaan rasa takut, melainkan penilaian bahwa ada sesuatu yang lebih penting dari ketakutan itu sendiri.

 Okay! Baiklah, disuntik lebih baik daripada diestrum kan? Pikirku kemudian. Hahaha.

Ketulusan

Aku tak begitu mengerti dengan hasil laboratorium itu. Sampai akhirnya, sang dokter yang penuh kharismatik itu, menjelaskan hasilnya setelah kami tiba kembali di ruangannya.

“Jadi kenapa, Dok?” Tanya suamiku. Dengan tartil, manusia berjas putih di depan kami, menjawab. Aku terperangah dengan jawabannya. “Thypus engga mesti diopname, koq.” Diagnosanya mengharuskan aku untuk dirawat di rumah sakit. Tapi kemudian, setelah dipertimbangkan, dokter memberiku alternative, membolehkanku tak dirawat di rumah sakit, “yang penting bed rest di rumah ya.”

Kecemasanku berangsur hilang ketika beliau memberikan resep bahkan saran. Suamiku khusyu menyimak, aku sendiri terlanjur mengamati indahnya cat tembok ruangan ini. Unik, desainnya garis-garis tangkai dan bunga lili. Bunganya warna putih, senada dengan hati sang Dokter yang juga putih. Betapa tidak, beliau yang tanpa kami minta, memberikan saran yang lebih dari cukup. Bahkan ketika beliau paham bahwa kami adalah keluaga.  Aku kembali menyimak rangkaian demi rangkaian kalimatnya. Seluruhnya adalah keoptimisan. Dan banyak ilmu yang sengaja beliau sedekahkan pada kami. Subhanallah.

Dari awal aku berobat ke dokter ini, aku rasa dia memang berbeda dengan dokter-dokter lain yang pernah aku kunjungi. Wajahnya yang teduh, yang mungkin sering disiram air wudlu, membuat pasien atau siapapun yang bertemu dengannnya, akan merasa nyaman. Apalagi akhlaknya, masyaAllah. Dari sekian dokter yang aku tahu, baru beliau saja dokter yang ramah dan tak segan-segan berguyon untuk mencairkan suasana. Guyonannya pun santun. Tidak norak, dan tidak asbun alias asal bunyi. Misalnya saja, ketika saya mengakui bahwa saya memang sering tak nafsu makan akhir-akhir ini, beliau memberikan guyonan yang tak lepas dari nilai budaya. Begini paparnya:

Waktu saya masih di Bandung. Saya ‘kan suka baca Mangle. Di sana ada cerita Kabayan tea kan. Tapi edisinya waktu itu menceritakan Usro.

Di cerita dijelaskan kalau Usro pada saat akan pergi ke pasar, mendadak dipanggil oleh bibinya. Rupanya, bibinya itu ingin nitip sesuatu. Usro mengiyakan. Si bibi pun, mengambil uangnya untuk diberikan pada Usro. Eh, pas mau diserahkan uangnya, ternyata Usro malah sedang dikukurung ku sarung. Bibinya bertanya, ‘maneh kunaon?’,   ‘gering bi’ jawab Usro.

Inisiatif, sang bibi pergi untuk mengambilkan air teh manis untuk Usro. Setelah di berikan pada Usro, bibinya kembali ke dapur untuk mengambil kue. Maksudnya supaya Usro minum tehnya sambil memakan kue. Sekembalinya bibinya dari dapur dan menaruh kue di samping Usro, ternyata teh manisnya habis duluan. Lalu sang bibi, kembali lagi ke dapur membuat teh manis. Selang beberapa menit, sang bibi kembali lagi ke kamar Usro. Kagetlah dia. Karena, kue yang barusaja disajikan, ludes. Dengan sabar, si bibi kembali lagi untuk mengambilkan kue. Setibanya dikamar Usro, teh yang disajikan keduakali itu sudah habis. Begitu berulang kali. Sang bibi mondar-mandir dapur, untuk mengisi ulang teh dan kue. Sampai akhirnya sang bibi bosan dan berkata. “Usro. Ai maneh, sakieu the keur gering, kumaha keur cageurna.(segini teh kamu lagi sakit, gimana kalau sehat.)”

Hahaha.

Cerita diakhiri dengan tawa sang dokter. Aku dan suami ikut tertawa. Keren. Ada nilai filosofis di sana. Tentang mengendalikan diri dari ketamakan terhadap makanan, salah satunya. Wow, ternyata  dokter nan kharismatik itu, tak hanya tau ilmu kedokteran, tapi juga bisa menggabungkan nilai-nilai kedokteran dengan nilai-nilai kebudayaan dan sastra. Hebat!

Akhir pertemuan kami, sang dokter memberikan lagi beberapa saran. Sungguh, beliau termasuk orang-orang yang mampu menangani orang lain dengan hati. Tak hanya dengan isi kepala. Beliau juga mampu memperlakukan orang lain dengan antusias dan ikhlas. Aku rasa, banyak pasien yang sebelum diberi obat, sudah berangsur sembuh hanya dengan bertemu dan mengobrol dengannnya. Dan dengan kematangan ilmu EQC-nya, beliau juga mampu mengamalkan “placebo effect”, yakni sebuah perlakuan medis yang tidak berisi zat-zat medis apa-apa (placebo) –satu-satunya unsur aktif pada perlakuan ini adalah kekuatan harapan positif pasien, yang didukung oleh interaksi dengan terapis, dalam hal ini, dokter  berperan sebagai terapis juga.

Untuk itu, kalau jiwanya tidak dokter sejati, maka akan sulit menerapkan ‘’placebo effect’’ ini. Hanya orang-orang yang tulus yang dapat menerapkannya. Dan dokter itu kami rasa telah berhasil.

Aku dan suami jadi belajar banyak pada dokter tersebut. Dokter yang mengesankan, yang mempunyai nama: dr. Syafrudin SpPD. (maaf kalau salah penulisan nama ya pak, hehe)

Image

Terima kasih, Dok. Semoga semakin banyak, dokter-dokter seperti Anda, yang tak hanya mumpuni dalam pengetahuan kedokteran, tapi juga membumi dalam kerendah hatian dan ketulusan. Dan bahkan tak hanya di ranah dokter, semoga muncul Syafrudin-Syafrudin seperti Anda di berbagai bidang.

Benar apa yang dikatakan Parlindungan Marpaung, bahwa melayani dengan tulus adalah bahasa yang dapat didengar orang tuli dan dilihat orang buta.

Aku doain Pak, semoga pak Dokter Syafrudin, suatu saat bahkan kalau bisa segera jadi Menteri Kesehatan. Mencerahkan umat dan kesehatan Indonesia. Dan yang lebih penting adalah menggantikan Menkes dengan inisial *mboi yang mungkin agak konslet atas ide gila PKN-nya yang na’udzubillah.

Atau kalaupun bukan bapak yang jadi Menkes, minimal, siapa ajalah yang bisa lebih baik, lebih bernurani dan berakhlak sesuai dengan sila pertama Pancasila. Aamiin.

Semoga suatu saat, kami berkesempatan mengobrol lebih banyak, tentunya bukan dalam keadaan sakit, seperti kemarin, tapi dalam keadaan sehat wal afiat semuanya. Karena sakit itu, muaaaaahaaall! :D

 

Salam olah jiwa,

Djayanti Nakhla Andonesi

Karawang lumbung nurani (doa), hehe.

Merunut


images

Tahun ini, akan ditutup tak lama lagi. Tinggal menghitung hari untuk sampai di tahun selanjutnya, di hari-hari yang masih misteri untuk diungkap saat ini. Adakah kita masih diberi usia di sana? Aku tak tahu. Tak ada yang bisa memastikan itu. Tak ada.

Aku merunut kejadian-kejadian di hidupku. Setidaknya untuk setahun ini. Begitu banyak hal yang terjadi, baik susah maupun senangnya, baik sedih maupun bahagianya, begitu banyak hal yang dilakukan dan dilalui, dan begitu banyak hal yang ternyata terabaikan. Ah…

Entah berapa milyaran jam indahnya hidup yang tak sempat aku nikmati karena tergoda untuk mengeluh. Entah, berapa ratusan juta kali aku kehilangan kesempatan untuk bersyukur atas apa yang dianugerahkan padaku. Entah, tak terhitung jumlahnya, aku mengabaikan diri dalam kelalaian yang mengerikan. Dan entah, sudah berapa kali aku merampas kebahagiaanku sendiri dengan menyerah atau kadang terlintas syak wasangka terhadap ujian-ujianNya yang aku terima. Astagfirullah…

Kadang aku merasa begitu lemah, lelah. Bukan saja dengan apa yang terjadi, tapi juga dengan diriku sendiri. Aku tak tahu, kapan aku mengatakan aku baik-baik saja, dan mengatakan aku sedang tidak baik-baik saja, selama aku mengenal diriku sendiri. Tapi setelah aku sadar, aku tahu, bahwa apa yang Allah ujikan padaku, sudah dalam dosis yang tepat. Tak kan meleset sedikitpun dari kemampuanku. Aku yakin itu. Setidaknya untuk meredakan kecemburuanku terhadap orang yang lebih mampu mendekat padaNya.

Mungkin sakitku, seperti yang terjadi sejak kemarin, akan mengurangi dosa-dosaku. Mungkin sesakku, akan menjadi penawar kelalaian yang tanpa aku sadari sering kulakukan. Semoga  airmata yang terjatuh saat jiwa ini tersadar atas kelalaian bisa menjadi penyejuk api penebus dosa.

Aamiin. Allahumma aamiin.

Dan pada akhirnya, catatan ini mengajak diriku dan siapapun yang membaca: mari sambut hari esok, untuk lebih baik lagi! *smile

^_^

Special thanks untuk suamiku, yang tak berhenti meyakinkan diri ini, bahwa semua uji adalah bentuk kasih sayang dari Allah. Keep struggle and positive thinking! :)

DNA…

-peace and learn-

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,371 other followers