Harta Karun itu ada ^^


 Abu Usaid r.a berkata : Nabi saw. Bersabda : sebaik-baik daerah Anshar ialah suku Bani an-Najar kemudian Bani Abdul-Asyhal, kemudian Bani Al-Haarits bin Khazraj, kemudian bani Sa’adah, dan semua Anshar itu baik. (H.R. Bukhari Muslim).(1)

Rosulullah demikian memuliakan kaum Anshar. Yang dalam ukiran sejarah, dengan izin Allah, Kaum Anshar sangat berjasa bagi kemajuan umat Islam. Tengoklah bagaimana ketulusan dan keindahan akhlak kaum Anshar , terlebih terhadap kaum Muhajirin ketika muslim kaum Muhajirin membutuhkan uluran tangan.

Dan untaian kisah yang memukau antara kaum Anshar dengan kaum Muhajirin, dapat kita telusuri dalam banyak kitab dan referensi yang shohih. Yang dapat diselami hikmahnya.

Saya sendiri speechless, mengira-ngira maksud Allah kepada saya berkenaan dengan waktu ketika saya menemukan bacaan ini. Karena bait-bait kisah yang baru saya baca ini begitu beriringan dengan tema PPL saya. Ya, materi pertama dalam PPL yang saya berikan pada murid-murid unyu-unyu saya di Sebuah sekolah menengah pertama, adalah berkaitan dengan hal ini.  Subhanallah…

Dan saya tak ingin hanyut sendirian ketika membaca harta karun berikut ini.

***

Lelaki Penghuni Surga*(2)

Siang itu cuaca kota Madinah begitu panas. Pertengahan musim kemarau yang membuat tanah seperti terpanggang dan pundak-pundak bukit batu melepuh. Orang-orang lebih memilih untuk berdiam di rumah bila tidak ada urusan yang begitu penting.

Dan kebiasaan yang demikian juga dilakukan oleh Rosulullah dan para sahabat. Sembari menunggu waktu sholat masuk, biasanya mereka duduk-duduk di dalam Masjid Nabawi, mengitari Rosulullah. Seperti biaasanya, kesempatan seperti itu dimanfaatkan oleh para sahabat untuk bertanya tentang hal-hal muskil kepada Rosulullah. Pembicaraan mereka tidak lepas dari ilmu dan hikmah. Teramat beruntunglah mereka yang bergabung dalam majelis yang mulia itu. Walaupun orang-orang yang melihatnya tak lebih dari sekelompok orang yang duduk untuk melepas lelah sembari menunggu waktu shalat berjamaah.

Suatu hari di musim panas, ketika sahabat ramai duduk-duduk bersama Rosulullah, pada saat itulah Rosulullah berkata, “Sebentar lagi akan datang kepada kalian seorang laki-laki penghuni surga.”

Mata para sahabat tertuju ke arah pintu masjid. Mereka penasaran dan tentunya bertanya-tanya siapa orang yang mendapat kemuliaan sedemikian besarnya itu.

Tak berapa lama, muncullah dari arah pintu seorang laki-laki dari kaum Anshar. Bekas air wudlu masih terlihat, sedangkan tangan kirinya menenteng terompah.

Keesokan harinya Rosulullah mengatakan seperti apa yang beliau katakan kemarin. Lalu tak berapa lama muncullah laki-laki itu lagi persis seperti keadaan tangannya untuk yang pertama kali.

Di hari ketiga, Rosulullah mengatakan yang demikian lagi dan datanglah laki-laki itu seperti kedatangannya pertama kali. Setelah Rosulullah beranjak, Abdullah bin Amr bin Ash membuntuti laki-laki tadi sampai ke rumahnya. Dia begitu penasaran dan ingin mengetahui amalan apa yang telah dilakukan lelaki Anshar itu sehingga mendapat kedudukan yang teramat mulia.

Agar tidak mencurigakan lelaki itu, Abdullah pura-pura datang untuk bertamu. Lelaki itu mempersilahkan Abdullah masuk setelah membalas salamnya.

“Aku datang pada rumah yang tepat. Di luar sana begitu panas dan tidak ada tempat untuk bernaung dari tikaman matahari.”

“Anda telah mendapatkan naungan di rumahku ini. Tapi sebelumnya saya mohon maaf apabila suasana rumah saya ini tidak selapang yang Anda harapkan.”

“Bagi saya tidak mengapa. Anda sudi membuka pintu ini dan mengidangkan secangkir air putih yang menyejukkan ini sudah merupakan kelegaan bagi saya. “

Abdullah tanpa ragu-ragu mengutarakan keinginannya, “Wahai Saudaraku, berkenankah kamu memberikan saya tumpangan untuk tiga malam mini? Saya sedang ada masalah dengan ayah saya dan berjanji tidak akan pulang sebelum tiga hari.”

“Tentu saja boleh. Tidaklah mengapa kamu menginap di rumah saya ini. Merupakan sebuah kehormatan bagi saya untuk dapat menjamumu dengan sebaik-baiknya. Nanti saya akan perahkan susu dan saya potongkan kambing untukmu. Saya harap Anda tidak menolaknya,” lelaki Anshar itu tersenyum ramah.

“Terimakasih atas semua kemurahan hati Anda. Semoga Allah mencatat dan membalas semua kebaikanmu ini dengan pahala yang berlipat ganda.”

“Baiklah, kamu boleh menganggap rumah ini seperti rumahmu sendiri.”

Abdullah pun mengamati setiap apa yang dikerjakan oleh lelaki Anshar itu termasuk amalannya. Sungguh dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Amalan yang dikerjakan lelaki itu tidak lebih baik dari apa yang biasa dikerjakannya, menurutnya. Dia lihat orang itu jarang bangun malam untuk mendirikan shalat tahajud (karena lelah bekerja di siang harinya, mungkin. -pen). Hanya saja, setiap lelaki Anshar itu hendak tidur, dia selalu membaca zikir sampai tertidur dan bangun menjelang subuh.

Selama menginap di rumah lelaki itu, Abdullah hanya mendengar perkataan yang baik-baik saja yang keluar dari mulut lelaki Anshar tersebut. Akhlak lelaki itu begitu baik dan ringan tangan. Sama seperti akhlak kebanyakan orang Anshar lainnya yang terkenal begitu murah hati.

Namun lelaki itu tidak melakukan amal-amal besar layakanya amalan seorang hali surga, (pikir Abdullah-pen). Tentunya hal ini membuat Abdullah kian pnasaran tentang amalan apa yang telah dilakukan laki-laki itu sampai-sampai Rosulullah menyebutnya sebagai ahli surga.

Hari pertama, kedua dan ketiga berjalan begitu cepat. Tapi Abdullah belum menemukan jawaban dari rasa penasarannya. Hampir saja ia menyepelekan amalan-amalan yang dilakukan lelaki Anshar itu. Karena dia sendiri menilai, bahwa amalan yang dilakukannnya (mungkin) lebih baik dari lelaki itu.

Setelah tiga malam berlalu dan pertanyaan yang mengganjal di hatinya belum juga mendapatkan jawaban, maka Abdullah memberanikan diri bertanya kepada lelaki itu.

“Wahai saudaraku, sebenarnya tidak ada yang terjadi antara saya dengan ayah saya. Saya begitu penasaran setelah mendengar bahwa Rosulullah saw. Berkata tentang dirimu sampai tiga kali.”

“Oya, apa yang Rosulullah katakan? Semoga Allah selalu mencurahkan rahmatNya kepada beliau.” Kini lelaki itu bertanya. Tentunya dia ingin tahu bagaimana penilaian Rosulullah kepadanya.  “Saya kuatir Rosulullah akan mengatakan kekurangan yang ada pada diri saya,” mukanya kelihatan murung.

“Bergembiralah Saudaraku. Rosulullah telah mengatakan berita yang mampu membuat siapa saja yang mendapatkannya akan tersungkur dari pelana kudanya. Tapi engkau harus janji kepada saya akan mengatakan sejujurnya apa yang akan saya tanyakan setelah ini.”

“Baiklah, saya berjanji.”

Mata lekaki itu mulai berkaca-kaca dan berharap.

“Sebelumnya, Rosulullah tidak pernah mengatakan hal ini kepada seorangpun sampai tiga kali. Waktu itu kami sedang duduk-duduk bersama Rosulullah saw, menjelang sholat ashar.  Lalu beliau berkata, ’Sebentar lagi akan datang kepada kalian seorang laki-laki penghuni surga.’ Tidak berapa lama muncullah dirimu dari pintu masjid dengan muka yang masih basah oleh air wudlu. Begitu sampai tiga kali Rosulullah mengatakan hal yang sama dan Anda yang datang setelah itu. Kami yakin bahwa Andalah orang yang dimaksudkan Rosulullah sebagai penghuni surga itu.

Sekarang ceritakan kepada saya, amalan apa yang membuat Anda mendapat kedudukan yang teramat mulia itu?”

Lelaki itu tak mampu menahan harunya. Air matanya menganak sungai dan membasahi mukanya sampai menitik-nitik di ujung-ujung jenggotnya. Dia pun sujud syukur dan berkali-kali bertakbir mengagungkan kebesaran Allah.

Untuk sekian lama, Abdullah menunggu lelaki itu bangkit dari sujudnya. Diapun tak mampu menahan air matanya untuk tidak tumpah. Sejujurnya dia juga akan melakukan hal yang sama atau bahkan lebih jika dirinya mendapatkan kehormatan sebagai ahli surga. Apalagi berita itu disampaikan langsung melalui lisan Rosulullah saw yang mulia.

“Wahai anak saudaraku, sungguh amalanku tidak lebih dan tidak kurang seperti apa yang kau lihat sendiri. Tidak ada amalan lain yang saya perbuat. Sungguh ini adalah sebuah karunia besar dari sisi allah kepada saya. Jika saja berita ini datangnya dari selain dari Rosulullah saw yang mulia, saya tidak akan percaya sama sekali.”

Air mata lelaki itu kembali membanjiri pipinya, dia sesenggukan menahan luapan rasa bahagianya.

“Benarkah hanya itu amalan yang Anda lakukan? Pasti ada yang lain, yang belum Anda katakan kepada saya,” desak Abdullah.

Setelah bisa menenangkan diri, lelaki Anshar itu mencoba mengingat-ingat kembali amalan yang pernah ia lakukan.

Sungguh, tidak ada yang lebih dari itu. Dalam hati saya tidak ada menyimpan rasa dendam walaupun agak sedikit terhadap kaum muslimin. Dan setiap hendak tidur, saya telah memaafkan kesalahan-kesalahan orang kepada saya pada hari itu. Sehinggga keesokan harinya saya tidak mengingat-ngingatnya lagi. Saya juga tidak iri dan dengki dengan karunia yang diberikan Allah kepada orang lain. Saya merasa cukup dengan apa yang telah Allah berikan kepada saya.”

Abdullah tersenyum lebar, “inilah amalan (selain yang  wajib—pen) yang telah menyampaikanmu pada derajat setinggi ini. Sungguh ini adalah sesuatu yang teramat berat untuk kami lakukan.”

Setelah mengetahui rahasia amalan lelaki Anshar itu, Abdullah pamit. Sungguh, dia telah mendapatkan pelajaran yang berharga dari lelaki ahli surga itu.

***
Nah, demikianlah kisah yang memukau dan menggetarkan siapa saja yang berusaha mengambil hikmah di dalamnya. Kemudian, marilah kita menengok ke dalam hati kita masing-masing. Ah, betapa lelaki Anshar itu tak hanya mendidik Abdullah, tapi juga menyentil nurani kita yang masih dikendalikan oleh sesuatu yang membinasakan.

Allahummagfirlanaa…

Semoga bermanfaat.

Image

_______

Referensi :

(1) Kitab Al lu’lu wal Marjan 2. no 1633. hal;995. Muhammad Fu’ad Abdul Baqi. Surabaya ; Bina Ilmu.

(2) The power of wisdom. Nurrahman Effendi. 2008. Jakarta ; Grafindo Khazanah Ilmu.

(3) sumber gambar : http://kartun.web.id/wp-content/uploads/2012/11/koleksi-kartun-muslim-abgferoz-1.jpg

Karawang, 28 Februari 2013.
~DNA~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s