Hanya (sebuah) catatan tidak ilmiah :D


Jam setengah sepuluh teng, akhirnya kami berangkat. Aku yang bawa motor. Pas di depan gang rumah, aku koq ngerasa motor ga enak banget dipakenya. Hm, bahkan sebenernya dari kemaren-kemaren aku ngerasa motor ada yang ga beres ya. Tapi apa?

Di jalan, ngobrol sama teh eneng, soal.. hm, apa ya? Oia, aku bilang maaf udah ganggu jadwal beliau rehat, yang kepake wat nemenin aku.

“Ga apa-apa ya, Di…” Jawabnya menyebut nama anaknya, Ardi, yang juga ikut duduk di jok belakang.

Pas ngelewatin polisi tidur, motorku tiba-tiba mati! Blep! Eh, salah emot, pokoknya si staternya mendadak senyap, ngga nyala.

Pas banget di depan perum singaperbangsa, alamatnya ocklay😀.

Sampe bapak-bapak pada nanyain, terus dibantuin sama bapak-bapak lain yang katanya ngerti permotoran juga, namun ternyata tak bisa membantu banyak. Akhirnya, motorku disuruh dibawa ke bengkel. Karena, setelah diselah puluhan kalipun, tapi tak jua mau hidup. Padahal bensin juga masih ada. Whats the troublle? :O

Aku melirik teh Eneng yang tadi juga udah bantu nyelah, tidak sepertiku yang hanya mengamati motor yang mati suri! Haduh. Motor saha, tapi nu repot saha. Hehe, payah si dj!

Lagi, bapak berkaos orange atau kuning sih itu the ya, ngga tau deh, lupa. Pokoknya, beliau nyaranin dengan tegas untuk dibawa langsung aja ke bengkel.

Hm, bengkelnya jauh 😦 Aku mengkhawatirkan Teh Eneng, ngga enak sama beliau jadinya. Udah mah waktu beliau jadi tersita untuk nganter aku, trus sekarang harus jalan kaki di siang2 bolong gini nemenin ke bengkel? Haduh apes! =_=

Wayahna, tak ada pilihan lain. Tak mungkin nunggu bengkel –yang sebenernya juga ada di depan mata– buka. Karena pasti bukanya sore. Meski dalam hati aku juga nanya, koq tumben nih bengkel tutup? Padahal biasanya anak-anak muda pada eksis, meski sekedar nongkrong.

Kami; aku dan Teh Eneng, ardi tak dihitung karena ia pasti tak mengerti apa yang sedang terjadi😀, menimbang dan memilih bengkel mana yang akan kami tuju. Kalau maju ke depan (yaelah, sejak kapan maju ke belakang :D), maksudnya kalau terus dorong nih motor ke arah depan, yakni ke arah mesjid dan lurus terus, pasti dapet bengkelnya di ujung Telukjambe, so.. sanggup gitu dorong sejauh itu? Dan dj tega gitu biarin teh Eneng dan Ardi –yang masih kecil itu– jalan jauh?

Oh tidak. Berarti jalan ke depan, untuk saat ini, bukan pilihan.

Maka, satu-satunya bengkel terdekat adalah bengkel yang ada di dekat Unsika. Deket sebuah laundry, tepatnya. Itu artinya, aku harus putar balik. Hm, melanggar prinsip dong? Don’t turn back! Wkeekekee.. #salah fokus

Ya, singkatnya, akhirnya, aku balik lagi, sambil mengendarai motorku yang mati. Sedang aku sudah pasrah aja ketika Teh Eneng juga mau ikut membersamaiku. #terharu.

Pengennya sih, Teh Eneng dan Ardi nunggu aja di depan perum, biar aku selesaikan urusanku dengan kekeluargaan bersama motor Mijo imutku ini. Soalnya, aka ngga tega mereka harus jalan jauh, dari perum Singaperbangsa ke deket jembatan unsika. Huaa :O #maaf yaa//

Pas aku nyebrang, dengan keadaan memaksa motor ikut berjalan, di belakangku ternyata ada bapak-bapak berkaos orange tadi. Beliau mau bantuin ngedorong motorku, dengan didorongnya aku olehnya yang bertengger dimotornya. Eh, gimana sih maksudnya?😀 Maksudnya gini, jadi si bapak itu juga mengendarai motor bebeknya sendiri, trus kaki kirinya, di tempelin ke pedal motor sebelah kanan ku. Jadi dia ngedorong tanpa harus cape. Gitu. Dan akupun jadi ga cape bawa motor mati. Hehehe. Alhamdulillah.

Nyampe bengkel, setelah aku ucapkan terimakasih secukupnya tanpa ditambahi bawang merah dan bawang putih, pada bapak orange tadi, aku parkir motor mijoku di depan bengkel, ya iyalah, masa di depan laundry. Kan motorku mau dibenerin, bukan mau di laundry, ahahaha. #eh. Jadi ngebayangin, motor kalau dimasukin ke mesin laundry apa jadinya? Lagi sarap nih kayaknya yang nulis😀

Dan subhanallah! Ternyata, uwa aku juga ada di bengkel ini. Hahaha, solider amat uwa. Hehe. Beliau mau benerin lampu motornya. Setelah nawarin minuman bersoda, yang berwarna merah, uwa ikut mengecek motorku. Distaternya lagi motorku. Bunyinya ngilu!

Tong dipaksakeun wa, moal beres.” Ujar lelaki berbadan tegap di belakangku. Mungkin dia dulunya pernah ikut Paskib, atau minimal Manakib, haha. Sotoy! Apa hubungannya coba? Ngga ada. Yaudah, lanjut ke soal motor.

Mijoku pun akhirnya ditangani oleh seorang lelaki berwajah tirus, yang di lengan kanannya terdapat bekas luka. Sayatannya cukup lebar. Tak tau luka apa. Tak berani pula aku bertanya. Tapi sih kayaknya lukanya itu sudah sembuh. Hanya saja, luka itu memang masih terlihat ada. Logikanya, kalau masih sakit, ngga mungkin dong dibiarin terbuka gitu aja? Yaudah sih, tak semua luka dapat dijelaskan kan? Karena kadang lukapun abstrak. Seperti lukanya orang yang sudah percaya pada pohon cinta, namun gugur sebelum berbunga. #eh, mulai ga fokus, hehe.

Dengan cekatan, lelaki berwajah tirus itu, mempreteli setiap baut di badan motor. Kemudian, diambillah sebuah benda kecil, dari dalam mesin. Busi, namanya. Aku, ardi dan Teh Eneng ikut membantu, dengan doa.😀

Dalam hitungan tak sampai sepuluh tahun, lelaki berwajah tirus itu telah berhasil mengganti busi lama mijoku, yang ternyata sudah tidak bisa dipakai, dengan busi baru. Dan, bruuum! Motor ijoku nyala lagi… Alhmdulillah. Jadi, penyebabnya adalah busi, pemirsa!

Setelah dipasang kembali apa-apa yang telah dipreteli dari motor ijoku, lelaki berwajah tirus yang ternyata kalau senyum itu membuat ikan di sungai klepek-klepek, memberi tahuku harga busi plus pembongkar-pasangannya tadi. Senilai, EMPAT liter bensin.

Alhamdulillah, semuanya beres! Setelah diganti busi, Mijoku sudah bisa dipakai lagi. ^_^

Setelah pamit pada Uwa (kakaknya mamaku) yang masih belum selesai urusannya di sana, dan juga pamit pada segenap ahli bengkel yang ada, aku pun meluncurkan diri bersama teh Eneng dan Ardi, menuju tempat yang akan kami tuju tadi. Karena, betapapun ujian mendera, show must go and straight on!😀

Karawang, 27 April’13

salam saja tanpa sereh ataupun rempah-rempah lainnya,

Djayanti Nakhla Andonesi ^0^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s