Tulisanku yang ditolak koran lokal :D


Paket Hebat

Oleh : Djayanti (Mahasiswi PAI UNSIKA Semester VIII)

“Rekor!” Demikian salah satu celetukan, ketika menyadari, ternyata masih di tahun yang sama, yakni hanya berselang tiga bulan sejak Januari lalu, Karawang kebanjiran lagi.

Banyak yang terheran-heran. Pasalnya, ini bukan lagi musim hujan, seperti prediksi BMKG. Tapi mengapa hujan tetap mengguyur, dan volume citarum naik?

Faktanya, banjir kali ini, selain karena cuaca buruk di Karawang sendiri, juga karena kiriman dari kawasan Hulu. Mengingat Karawang adalah daerah Hilir. Yang bukan tidak mungkin, ketika di Karawang sama sekali tidak hujan, tetap saja kebanjiran di beberapa daerah –seperti kejadian 2010 silam, jika di kawasan hulu sungai citarum, diguyur hujan habis-habisan.

Dan hal itu, mirisnya, terjadi lagi. Bahkan, di beberapa daerah Karawang, sudah terendam banjir lagi sejak minggu lalu. Meski tidak separah sebelumnya. Tapi, siapa yang mau?

Lebih miris lagi, ketika di antara kita, malah saling melempar batu sembunyi tangan. Kita menunjuk-nunjuk siapa yang salah. Warga menyalahkan pemerintah, pun sebaliknya.

Padahal, bila kita kaji lebih jernih. Setiap kita juga berpotensi melakukan kesalahan. Tengok saja kebiasaan kita, yang masih sering lupa membuang sampah pada tempatnya. Apalagi jika sampah yang lupa dibuang itu, banyaknya adalah yang sulit didaur ulang, bahkan susah hancur di tanah. Seperti sampah plastik dan sejenisnya. Sehingga, terjadi penumpukan sampah yang luar biasa mengerikan. Parahnya, hal itu sering terjadi tidak hanya di daerah hulu, tapi juga daerah hilir.

Belum lagi, kondisi saluran air yang juga menyedihkan. Banyak akses jalan yang tidak punya drainase yang baik. Sekalipun ada, seringnya tidak layak disebut drainase, bahkan ada yang berganti fungsi menjadi ‘tempat sampah dadakan’.

Semakin parah, ketika sungai citarum yang menjadi saluran air terbesar kota Karawang ini, mengalami pendangkalan yang siginifikan. Sehingga, pada saat hujan turun, apalagi dengan intensitas yang tinggi, kedatangan tamu tak diundang (baca: banjir), menjadi hal yang tak bisa dielakkan.

Mungkin itulah, yang mengingatkan kita pada Quran Surat Ar-Ruum ayat 41:
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Juga akhirnya kita pun ingat Quran Surat Asy-Syu`araa` (26): 151-152 :
“dan janganlah kamu mentaati perintah orang-orang yang melewati batas, yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan.”

Maka, solusi, adalah hal mutlak yang perlu kita cari bersama, bukan hanya untuk ditaruh di pikiran, tapi juga diamalkan. Agar ‘sebagian kecil’ akibat dari kealpaan kita, tidak akan terulang lagi.

Untuk itu, langkah yang paling konkret adalah, membangun kesadaran masing-masing kita untuk tidak lagi membuang sampah sembarangan, apalagi ke sungai. Karena meskipun hal itu terkesan sepele, tapi justeru dampaknya tidak main-main.

Kemudian, dibutuhkan juga uluran cinta dari pihak yang berwenang, baik pemerintah maupun swasta, untuk bersama warga membangun sistem drainase yang lebih baik. Dan mempertimbangkan daerah yang akan dijadikan pemukiman baru, apakah mengusik stabilitas penyerapan air atau tidak. Serta sesegera mungkin me-recover aliran sungai agar tak semakin dangkal.

Ini, tentu saja memerlukan kerjasama yang baik, antara pemerintah dan masyarakat. Misal, tak ada ruginya mengadakan lomba wilayah bersih. Minimal, setiap desa mengadakannya. Sehingga, proses menjaga kebersihan lebih memotivasi warga.

Atau, dengan memberdayakan warga kita yang sebenarnya cerdas, dalam mendaur ulang barang-barang bekas, sehingga mengurangi kuantitas sampah yang sulit hancur.

Maka, cukuplah kita untuk tidak lagi saling menyalahkan satu sama lain. Cukuplah kita untuk tak lagi mengeluhkan prediksi, dan tak lagi menyalahkan siapapun. Tetapi, fokus pada perbaikan yang sebisa mungkin kita lakukan.

Jangan sampai hari bumi yang jatuh pada tanggal 22 April kemarin, atau jargon ‘selamatkan bumi’, hanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri, alias tidak bermakna apa-apa. Atau, hanya sekedar acara seremonial belaka, sehingga sia-sia kita dinobatkan menjadi kholifah di muka bumi ini.

Meminjam istilah Aa Gym, yang mengatakan, perbaikan itu dengan 3M. Yakni: Mulai dari diri sendiri, Mulai dari yang terkecil, dan Mulai dari sekarang!

Sehingga, entah itu karena cuaca yang buruk, atau karena kiriman dari hulu berupa paket hebat (baca: banjir), lebih bisa kita amankan keadaannya.

banjiir

Kondisi Sungai  Citarum di salah satu daerah Karawang

Salam pena, Djayanti Nakhla Andonesi

April 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s