Ikatan kita, ikatan cinta karenaNya.


Tak kenal, maka ta’aruf. ^_^

Siapa yang menyangka. Ternyata, lelaki itu, datang bersama seseorang, untuk mengutarakan niatnya berta’aruf denganku. Padahal, di luar sana, mungkin ada banyak fansnya yang menanti. Juga aku tahu, ada gadis lain yang sebenarnya lebih baik dariku. Tapi entah, akhirnya, dia memilih berta’aruf denganku. Dan anehnya, tak ada keraguan padaku sama sekali saat itu untuk menerima tawaran ta’aruf darinya. Padahal, sebelumnya, aku sudah mati rasa untuk menerima seseorang lagi. Yakni karena zaman baheula, aku sempat jatuh bangun, dan selalu ragu bila mendengar janji laki-laki, bagiku kala itu, janji laki-laki adalah bullshit (aduh bahasanya koq lebay beud :p). Mungkin karena aku masih labil. Maklum, waktu itu belum lama lulus dari sekolah menengah akhir, jadi, masih gampang rapuh dalam perasaan. Ciyus.😀 (tapi sih, katanya kalo cewe mah emang bakat dari sononya : perasaannya halus. *ngebela diri ;P)

Tapi serius, subhanallah dia datang di saat yang tepat. Saat hati memang sudah siap sepenuhnya menerima calon imam hidupku. Saat hati sudah netral. Sudah tak ada lagi luka yang tersisa. Sudah tak ada lagi ragu yang menjelaga. Sudah. Saat dia datang, aku benar-benar sudah siap dengan hati yang seutuhnya menerima. Tak setengah-setengah. Apalagi seperempat-seperempat kayak beli gula di warung.

Aku menginginkan orang yang agamanya baik untuk menjadi imamku  dan anak-anakku kelak. Karena, orang yang agamanya baik, insyaAllah akhlaknya juga baik. Seiring berjalannya waktu. Aku mulai mengenalnya. Dia jujur. Bersahaja. Sabar dan sungguh-sungguh tipikalnya. Dan satu hal yang paling penting bagiku, tulus. Nah, ternyata dia bukan saja baik, tapi juga tulus. Aku bukan mempromosikan kelebihannya, karena setiap orang pastilah punya kekurangan. (Apalagi aku, yang punya banyak kekurangan). Tapi, sungguh, ketulusannya itu telah kulihat nyata, ketika dia mau menerima kekurangan diri dan keluargaku yang apa adanya.

Gencar, istikharah aku lakukan. Setiap ada kesempatan aku berdoa. Mohon pada Allah yang telah menciptakan sesuatu itu dengan berpasang-pasangan, agar aku dan dia diberi takdir terbaik. Jika dia yang memang jadi jodohku, aku mohon dimudahkan jalan kami untuk segera bertemu di ikatan yang suci. Namun jika bukan, aku berdoa agar aku diselamatkan dari hal, sifat atau perbuatan yang mendzolimi diri kami sendiri.

Kunjungan ketiga

“Maaf, ta’aruf kita sudah cukup sampai di sini.” aku masih ingat, pagi itu, di hari ulangtahunku berangka kembar, dia menyudahi masa ta’aruf kami. Dan aku yang baru saja pulang sift tiga, mendadak tak mengantuk lagi. Macet rasanya tenggorokanku. Jadi, belum ada yang bisa aku katakan saat itu, selain hanya mendengarkannya bicara. Dalam hati aku menguatkan diri.

‘Its okey, toh… jodoh tak akan tertukar. Ini pasti rencana Allah. Aku tahu itu. Aku tahu, Allah tak akan salah membuat keputusan.”

“Tenang Je… ini hanyalah episode yang cuma lewat. Be Strong! Waktu gagal khitbah aja kamu bisa melewatinya, masa cuma gagal ta’aruf aja kamu cemen?”

Aku berdialog dalam hati. Sambil ketat menjaga mata supaya tak berair. Sedang hidungku sudah mulai ingusan. (emang lagi pilek kalee :D)

Mimiknya serius bukan main, kemudian menanyakan sesuatu setelah memohon maaf atas disudahinya masa ta’aruf ini. Aku yang tahu diriku ini cengeng, mulai kewalahan mengatur strategi untuk tak terlihat demikian. Sudut mataku sudah menghangat. Oh, ini ulang tahun yang begitu ironis. Plis! Jangan nangiiiss…!!! Aku menjerit dalam hati, menguat-nguatkan diri. Pasrah. Sudahlah… mungkin dia bukan jodohku, aku menghembuskan nafas dengan berat. Hellooww… ikhlas mana ikhlas… Allah sudah menyiapkan yang lebih baik Je… masih terus menabahkan diri aku mencoba mengatur nafas yang mendadak sesak. Ih! Koq gini amat?

“Sekali lagi maaf ya, Teh… maaf kalau selama ta’aruf ini saya punya salah ke Teteh dan keluarga” dia masih saja minta maaf, dan aku masih saja belum bisa berkata apa-apa. Padahal aku ingin mengatakan : ya, tidak apa-apa. Tapi koq, keluuuu…!

Sahabatku yang duduk tak jauh dari kami belum berkomentar, karena ia sedang menyimak hal lain dengan mamaku.

Ya ampun! Ayolah Je, katakan kalau ini tidak apa-apa…  lagi, suara hatiku mencoba menguatkan. Baru saja aku akan mengatakannya… Dia keburu memotong dengan kalimatnya.

“Maaf, karena saya punya rencana lain,…”

Sudah hampir jebol waduk air mataku. Perih. Aku mulai tak konsen dengan apa yang dikatakannya.

“… rencana ini sudah disetujui orangtua saya, maaf kalau Teh Dj tidak berkenan…”

Aku sudah pasrah. Dari awal aku sudah mengomitmenkan diri, bahwa tak apa kalau kita tak jadi melanjutkan ke jenjang berikutnya. Kita masih bisa menjadi saudara, bisikku dalam hati.

Tanpa menunggu tanggapanku dia melanjutkan kalimatnya.

“…saya ingin melamar Anti.”

DEG!

Apa aku salah dengar? Dia bilang apa barusan? 

Aku menoleh ke arah seberang di mana dia duduk. Dahiku mengernyit. Dia malah mengangguk. Meyakinkan bahwa apa yang ku dengar itu benar. Dia ingin melamarku. Dia ingin mempersuntingku. Ya, berarti maksudnya untuk menyudahi masa ta’aruf ini adalah untuk ke tahap selanjutnya???

Aku bertanya tanpa suara. Dia mengangguk sopan.

“Iya maksud saya menyudahi ta’aruf ini, adalah karena saya ingin melamar Anti… Kalau Anti tidak keberatan, minggu depan keluarga saya akan datang ke sini untuk melamar. Jawabannya nanti saja ketika lamaran. Terserah keputusan Anti” Dia tersenyum-senyum. Mungin senyum untuk dua hal. Pertama, karena dia berhasil mengutarakan niatnya. Yang selanjutnya, senyum karena caranya menyampaikan telah sukses membuatku merasa SURPRISE!!!

Dalam hitungan kilat, aku melemparkan plastik merah yang tadi kupegang. Maluuuu! Karena pikiranku sudah menjalar kemana-mana. Aku menutup muka. Dia terkekeh-kekeh. Air mataku sudah tak bisa ditahan. Jebol, campur aduk rasanya. Terharu juga gemas. Dia hobi sekali membuat surprise! Dan hatiku meleleh seperti coklat yang dipanaskan, tapi juga adem seperti makan eskrim di siang hari…
Ya Allah… tadinya kupikir, ini ulangtahun yang ironi, ternyata istimewa sekali. Hatiku lumer.

Kunjungan yang direncanakanpun tiba. Ahad sebelum Ramadhan, bersama anggota keluarganya dalam kunjungan ketiga, dia meminangku. Dan dengan ditemani keluargaku, aku menerimanya, Bismillah…🙂

belajar dari istilahnya habibie dan ainun:

masalaluku adalah milikku, dan masalalumu adalah milikmu. Tapi saat ini dan masa depan adalah milik kita…

🙂

Walau banyak rintangan yang menghadang juga menggoda, kita bisa melaluinya dan akhirnya, hari itupun tiba… alhamdulillah. ^_^

Dia…

Sejak aku lahir, laki-laki yang paling ganteng sedunia adalah bapakku. Karena, dalam keluargaku hanya ada aku anak semata golek dari mama dan bapak. Namun, sejak tanggal 18 Oktober 2013, bapakku harus rela tidak lagi menjadi satu-satunya makhluk terganteng dalam hidupku, yakni sejak datangnya seorang pangeran berjas abu-abu pada hari Jumat itu. Pangeran yang otomatis menjadi menantu bapakku, setelah ijab kabul berlangsung. Pangeran yang kemudian dalam hitungan detik dalam akad itu, membuat duniaku berubah. Total. Dari asuhan mama bapakku, ke asih dan asuhan dirinya, dari tanggungjawab kedua orangtuaku beralih ke tanggung jawabnya, yakni suamiku.

Tangis haru meluber di taman itu. Doa-doa menghantar kami. Hatiku basah, betapa Allah menyayangiku.
Saat istimewa di mana Allah menjamu tamunya yang kelelahan setelah berhaji, aku pun mendapat hidangan hadiah yang tak terkira berharganya. Mendapatkan suami yang soleh, alhamdulillah. Maka di bulan saat Negeri Sakura sedang musim gugur, hatiku justru sebaliknya, bersemi indah.

Ya, mulai tanggal 18 Oktober 2013 bertepatan dengan hari tasyrik ketiga bulan Dzulhijah, aku tak lagi lajang. Aku telah berpasang. Dengan seseorang yang di hadapan penghulu dan semua mahkluk yang hadir kala itu, juga dihadapan Allah dan RosulNya serta para malaikat, telah berjanji setia menemaniku hingga ahir hayat, dan berharap sampai di surgaNya. Begitupun janjiku. ‘Arsy bergetar. Langit dan bumi menjadi saksi. Semoga Allah menguatkan dan melanggengkan ikatan suci ini. Aamiin.
Semoga Allah mengaruniakan keturunan yang shaleh dan shalehah, dan menjadikan kami keluarga yang sakinah mawaddah warahmah, selalu. Dan memberkahi perjalanan biduk rumahtangga kami ini sampai ke surga dan RidhoNya. Aamiin.

Semoga Allah menjadikan diriku sebaik-baik perhiasan dunia ahkirat untuk dia… yakni suamiku tercinta, Abdul Aziz Jaelani🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s