Dokter Kharismatik ^_^


 Ada

Lagi-lagi, aku harus berurusan dengan dunia medis. Entah sudah keberapa kali aku menyambangi klinik atau rumah sakit, mengalahkan ratingku berkunjung ke tempat pariwisata. Hadeh. Tapi, memang itu yang semestinya aku lakukan, untuk mengetahui ada apakah kiranya dengan diriku. Juga untuk membantuku segera sembuh.

Ditemani kesabaran suamiku, kami mencari klinik atau rumah sakit setelah hujan reda. Aku memilih rumah sakit yang berada di dekat rel kereta di bilangan johar. Setibanya di sana, gerimis kembali turun. Segera kami masuk ruangan. Rupanya sudah banyak perkembangan. Terbukti dengan adanya layout parkir dan pintu masuk rumah sakit yang baru. Syukur deh, jadi keluarga pasien atau bahkan pasien yang datang ke sana, tak kesulitan memarkir kendaraan. Tapi aku kecewa, ketika ternyata hari itu tak ada dokter yang sesuai untuk menangani penyakitku.

“Jadwalnya, Hari Senin, Rabu dan Jumat, bu.” Ujar seorang wanita yang jaga di bagian administrasi. Dan aku kesana tepat di hari Kamis. Oh, poor me! Yasudahlah. Akhirnya aku dan suami keluar dari ruangan yang didominasi warna crem dan hijau itu. Saat menaiki kendaraan, suamiku komentar. “Peraturan yang aneh.” Aku mengernyit. Lalu dia menunjuk papan tata tertib parkiran di sana. Yang digaris bawahi oleh suamiku adalah kalimat: kehilangan  tak menjadi tanggung jawab kami .

“Lalu, untuk apa kita bayar parkir (yang ditarif pula), coba?” dia berujar. Aku ikut mikir kemudian tersenyum, kritisnya suamiku.🙂

Hari makin gelap, klinik mana ya yang terdekat? Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke rumah sakit di bilangan Kertabumi. Yang artinya, lebih jauh. Sebenarnya, bisa saja sih, kami memutar arah, kembali ke daerah Telukjambe, tapi berhubung di sana tidak ada jamsostek dari perusahaan dimana aku bekerja, dan sayang juga kalau plafon terabaikan saat dibutuhkan, maka meski cuacanya bikin galau, akhirnya kami tiba juga di bilangan Kertabumi. 

“Sholat dulu yuk.” Qawwam alias suamiku menyeru, dan aku setuju setelah memastikan bahwa dokter yang akan kami tuju, sedang berada di tempat.

Alhamdulillah, tak terlalu lama kami duduk di depan meja administrasi untuk dipanggil mendapatkan tiket masuk😀. Oh ya, terakhir ke rumah sakit ini, ketika hari minggu. Saat kami menjenguk teman. Kali ini, aku yang malah jadi pasien. Hoho. Dunia cepat sekali berputar.

Sesampainya di ruang dokter yang kami tuju, aku langsung diperiksa tensi darah. Setelah itu kembali aku melakukan pekerjaan yang Imam Robandi bilang adalah salah satu budaya melatih kecerdasan emosional, yakni mengantri.

Sang suster dengan ramah tersenyum pada kami. Dan sedekahnya itu, membuatku lebih nyaman meski harus menunggu, selain tentu saja karena adanya suamiku. Hehehe. Sambil menunggu, aku memperhatikan dengan seksama (dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya :D) bangunan rumah sakit ini. Ada banyak ornamen dan symbol agamis, seperti kaligrafi yang dicetak besar di sudut ruangan. Kesan yang ku tangkap adalah, pemilik maupun karyawan rumah sakit sini pastilah mengerti agama dengan baik. Selain itu, ada juga tata cara yang berkaitan dengan dunia medis yang ditempel di dinding ruangan. Seperti cara mencuci tangan yang baik dan benar. (yaiyalah, masa iya yang ditempel itu cara memasak?😀 emangnya tempat kursus :P?!)

“ Djayanti.” Panggil suster itu akhirnya, pintu ruang dokter dibuka.

“Oh, sepertinya sudah pernah ke sini ya.” Ujar sang Dokter. Wah, rupanya beliau masih ingat. Ya iayalah! Kan waktu dulu aku juga pernah berobat ke sini, jadi otomatis ada lembar riwayat pasien. Hm, satu hal yang aku sukai di rumah sakit ini, mananejem dokumennya bagus.

“Pas ke sini, bulan Mei yang lalu ya.” Dokter yang bergelar SpPD itu memulai percakapan dengan senyum. Aku mengangguk. Sama seperti dulu, ternyata dokter ini masih ramah saja. Konsisten dalam kebaikan. Yang terlihat berbeda, hanyalah jumlah uban di kepalanya. Semakin lebih banyak. Usia memang merambat lebih jujur.

Suaranya yang mungkin dulunya adalah vokalis itu (sotoy :D), terdengar renyah menanyakan apa saja yang aku rasakan, untuk kemudian diperiksa lebih lanjut. Suamiku mengamati dan ikut memberikan informasi, pada setiap pertanyaannya sebagai ahli medis.

“Periksa darah, dan tes urin dulu ya.” Seru dokter berkacamata tebal itu. Aku agak khawatir, karena tak siap bertemu dengan jarum suntik. Payah! Hahaha.  

“Setelah itu, kembali lagi ke sini.” Lanjutnya, setelah menjelaskan rute menuju laboratorium.  

Lintas Budaya

Di depan laboratorium, tak hanya kami, orang pribumi yang menunggu untuk diperiksa. Tapi, sepasang suami istri, yang kata suamiku bahwa mereka adalah orang India, juga sedang menunggu hasil laboratorium. Wow! Keren ya, daerah lokal, tapi pasiennya ada yang asing.

“Tahu dari mana mereka orang India?” aku memastikan asumsi suamiku.

“Dari bahasanya, Neng.”

“Oh…” aku percaya, karena suamiku memang sempat mengenal bahasa negaranya Sahruk khan tersebut. Lagi pula, memang sih, tanpa harus mendengar obrolan merekapun, pada kenyataanya, secara penampilan, baik gesture wajah maupun tubuh, mereka cukup menjelaskan identitas itu. Cuma yaaa, tadinya kufikir, siapa tahu aja mereka itu orang Ambon, hehehe. Dan karena ciri-cirinya yang mirip orang Ambon itu, maka bisa ditebak, mereka adalah India dari golongan dravida.

Andaikan aku Fitri Tropica, yang punya tingkat PD di atas rata-rata, aku pasti mengajak mereka kenalan. Kapan lagi coba, bicara dengan orang asing? Hehe. Apalagi ini orang dari bangsa yang pernah meramaikan Indonesia pada zaman pra-kemerdekaan melalui perdagangannya. Tapi sayangnya aku bukan Fitri Tropica, juga tak mengerti bahasa mereka. Jadi, apa mau dikata? (Haha, dudul. :D)

Parno (takut)

“Aku cuma engga mau bikin Aa khawatir.” Jawabku, saat suamiku bertanya, tentang beberapa hal yang aku rasakan tapi tidak aku ceritakan. Tapi pada akhirnya, aku cerita juga. Hehe.

Sabar mendapat panggilan, lebih aku sukai daripada dipanggil itu sendiri. Karena artinya, aku akan bertatap wajah dengan jarum suntik. Huaaa…. >.<

Sebenarnya aku tidak takut dengan jarum suntik, aku hanya khawatir jika ujung jarum itu menembus kulitku. (wkwkwk podo bae atuh jee… :P)

“Jangan tegang.” Rupanya, dokter yang juga berkacama itu, membaca raut wajahku.

“santai aja…” lanjutnya tak lupa melempar senyum. Aku sendiri, meringis. Belum juga sampai itu jarum ke kulit, aku sudah takut duluan. Wew!

“Aku emang parno bu, kalau disuntik. Di pabrik aja, pas medical chek up, suster-susternya sampai hapal. Kalau aku adalah orang yang paling tegang kalau disuntik. Tapi untungnya tidak sampai pingsan sih bu, hehehe.”karena ibu dokternya pendiam, maka  aku nyerocos mengalihkan perhatian dari si jarum suntik yang sudah siap menyedot darahku, Ibu dokter tersenyum.

Bismillah, bismillah… dalam hati aku berucap. Berusaha membuang ketakutanku. Tak lama, semut nakal menggigit lengan kananku. Oh, bukan dink, itu sedang disuntik. Tapi aku tak berani melihat. Ah dasar, aku memang tak ada bakat menjadi dokter. Hahaha. Mendadak, aku teringat ilmuwan Ahmad Thoha Faz, yang mengatakan, sebenarnya, keberanian bukan ketiadaan rasa takut, melainkan penilaian bahwa ada sesuatu yang lebih penting dari ketakutan itu sendiri.

 Okay! Baiklah, disuntik lebih baik daripada diestrum kan? Pikirku kemudian. Hahaha.

Ketulusan

Aku tak begitu mengerti dengan hasil laboratorium itu. Sampai akhirnya, sang dokter yang penuh kharismatik itu, menjelaskan hasilnya setelah kami tiba kembali di ruangannya.

“Jadi kenapa, Dok?” Tanya suamiku. Dengan tartil, manusia berjas putih di depan kami, menjawab. Aku terperangah dengan jawabannya. “Thypus engga mesti diopname, koq.” Diagnosanya mengharuskan aku untuk dirawat di rumah sakit. Tapi kemudian, setelah dipertimbangkan, dokter memberiku alternative, membolehkanku tak dirawat di rumah sakit, “yang penting bed rest di rumah ya.”

Kecemasanku berangsur hilang ketika beliau memberikan resep bahkan saran. Suamiku khusyu menyimak, aku sendiri terlanjur mengamati indahnya cat tembok ruangan ini. Unik, desainnya garis-garis tangkai dan bunga lili. Bunganya warna putih, senada dengan hati sang Dokter yang juga putih. Betapa tidak, beliau yang tanpa kami minta, memberikan saran yang lebih dari cukup. Bahkan ketika beliau paham bahwa kami adalah keluaga.  Aku kembali menyimak rangkaian demi rangkaian kalimatnya. Seluruhnya adalah keoptimisan. Dan banyak ilmu yang sengaja beliau sedekahkan pada kami. Subhanallah.

Dari awal aku berobat ke dokter ini, aku rasa dia memang berbeda dengan dokter-dokter lain yang pernah aku kunjungi. Wajahnya yang teduh, yang mungkin sering disiram air wudlu, membuat pasien atau siapapun yang bertemu dengannnya, akan merasa nyaman. Apalagi akhlaknya, masyaAllah. Dari sekian dokter yang aku tahu, baru beliau saja dokter yang ramah dan tak segan-segan berguyon untuk mencairkan suasana. Guyonannya pun santun. Tidak norak, dan tidak asbun alias asal bunyi. Misalnya saja, ketika saya mengakui bahwa saya memang sering tak nafsu makan akhir-akhir ini, beliau memberikan guyonan yang tak lepas dari nilai budaya. Begini paparnya:

Waktu saya masih di Bandung. Saya ‘kan suka baca Mangle. Di sana ada cerita Kabayan tea kan. Tapi edisinya waktu itu menceritakan Usro.

Di cerita dijelaskan kalau Usro pada saat akan pergi ke pasar, mendadak dipanggil oleh bibinya. Rupanya, bibinya itu ingin nitip sesuatu. Usro mengiyakan. Si bibi pun, mengambil uangnya untuk diberikan pada Usro. Eh, pas mau diserahkan uangnya, ternyata Usro malah sedang dikukurung ku sarung. Bibinya bertanya, ‘maneh kunaon?’,   ‘gering bi’ jawab Usro.

Inisiatif, sang bibi pergi untuk mengambilkan air teh manis untuk Usro. Setelah di berikan pada Usro, bibinya kembali ke dapur untuk mengambil kue. Maksudnya supaya Usro minum tehnya sambil memakan kue. Sekembalinya bibinya dari dapur dan menaruh kue di samping Usro, ternyata teh manisnya habis duluan. Lalu sang bibi, kembali lagi ke dapur membuat teh manis. Selang beberapa menit, sang bibi kembali lagi ke kamar Usro. Kagetlah dia. Karena, kue yang barusaja disajikan, ludes. Dengan sabar, si bibi kembali lagi untuk mengambilkan kue. Setibanya dikamar Usro, teh yang disajikan keduakali itu sudah habis. Begitu berulang kali. Sang bibi mondar-mandir dapur, untuk mengisi ulang teh dan kue. Sampai akhirnya sang bibi bosan dan berkata. “Usro. Ai maneh, sakieu the keur gering, kumaha keur cageurna.(segini teh kamu lagi sakit, gimana kalau sehat.)”

Hahaha.

Cerita diakhiri dengan tawa sang dokter. Aku dan suami ikut tertawa. Keren. Ada nilai filosofis di sana. Tentang mengendalikan diri dari ketamakan terhadap makanan, salah satunya. Wow, ternyata  dokter nan kharismatik itu, tak hanya tau ilmu kedokteran, tapi juga bisa menggabungkan nilai-nilai kedokteran dengan nilai-nilai kebudayaan dan sastra. Hebat!

Akhir pertemuan kami, sang dokter memberikan lagi beberapa saran. Sungguh, beliau termasuk orang-orang yang mampu menangani orang lain dengan hati. Tak hanya dengan isi kepala. Beliau juga mampu memperlakukan orang lain dengan antusias dan ikhlas. Aku rasa, banyak pasien yang sebelum diberi obat, sudah berangsur sembuh hanya dengan bertemu dan mengobrol dengannnya. Dan dengan kematangan ilmu EQC-nya, beliau juga mampu mengamalkan “placebo effect”, yakni sebuah perlakuan medis yang tidak berisi zat-zat medis apa-apa (placebo) –satu-satunya unsur aktif pada perlakuan ini adalah kekuatan harapan positif pasien, yang didukung oleh interaksi dengan terapis, dalam hal ini, dokter  berperan sebagai terapis juga.

Untuk itu, kalau jiwanya tidak dokter sejati, maka akan sulit menerapkan ‘’placebo effect’’ ini. Hanya orang-orang yang tulus yang dapat menerapkannya. Dan dokter itu kami rasa telah berhasil.

Aku dan suami jadi belajar banyak pada dokter tersebut. Dokter yang mengesankan, yang mempunyai nama: dr. Syafrudin SpPD. (maaf kalau salah penulisan nama ya pak, hehe)

Image

Terima kasih, Dok. Semoga semakin banyak, dokter-dokter seperti Anda, yang tak hanya mumpuni dalam pengetahuan kedokteran, tapi juga membumi dalam kerendah hatian dan ketulusan. Dan bahkan tak hanya di ranah dokter, semoga muncul Syafrudin-Syafrudin seperti Anda di berbagai bidang.

Benar apa yang dikatakan Parlindungan Marpaung, bahwa melayani dengan tulus adalah bahasa yang dapat didengar orang tuli dan dilihat orang buta.

Aku doain Pak, semoga pak Dokter Syafrudin, suatu saat bahkan kalau bisa segera jadi Menteri Kesehatan. Mencerahkan umat dan kesehatan Indonesia. Dan yang lebih penting adalah menggantikan Menkes dengan inisial *mboi yang mungkin agak konslet atas ide gila PKN-nya yang na’udzubillah.

Atau kalaupun bukan bapak yang jadi Menkes, minimal, siapa ajalah yang bisa lebih baik, lebih bernurani dan berakhlak sesuai dengan sila pertama Pancasila. Aamiin.

Semoga suatu saat, kami berkesempatan mengobrol lebih banyak, tentunya bukan dalam keadaan sakit, seperti kemarin, tapi dalam keadaan sehat wal afiat semuanya. Karena sakit itu, muaaaaahaaall!😀

 

Salam olah jiwa,

Djayanti Nakhla Andonesi

Karawang lumbung nurani (doa), hehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s