Susi tanpa similikiti


Beberapa hari yang lalu, aku sempat kebingungan. Ketika ada seorang teman, yang menyebut-nyebut nama Susi dan programnya di grup WA kami. Aku kira beliau salah posting atau salah ‘kamar’. Ternyata aku keliru. Karena temanku itu bilang bahwa dia tidak salah posting. Lalu aku pun bertanya, siapakah Susi yang beliau maksud. Apakah tetangga, atau kenalannya?

Dan, wow. Rupanya aku yang ‘kudet’ parah. Ternyata Susi itu adalah nama Menteri baru, dalam kabinet Presiden sekarang. Oh, aku baru tahu. Belum sampai di situ ternyata, ‘kekudetan’ku semakin terlihat, ketika tersiar kabar kalau beliau bersikap yang ‘di luar’ kewajaran sebagai seorang pemimpin bangsa, seorang public figure. Ya, ternyata beliau berhasil menyedot perhatian masyarakat dengan latar belakang hidupnya, dan yang paling menonjol adalah sikapnya yang tanpa beban, memamerkan hobby merokoknya di depan wartawan, seolah sengaja dibuat agar media meliputnya. Dan bahkan memblow-up nya untuk tujuan tertentu. Buset. Bila tujuannya itu, aku rasa dia sudah berhasil. Lalu aku pun beristigfar. Tak ingin berprasangka lebih dalam.

Namun tanpa hendak nyinyir, aku pun bertanya-tanya. Apa maksud dari itu semua. Okelah aku tahu, seorang yang sudah hobby merokok, akan kesulitan untuk menghentikannya. Aku sendiri tidak akan ambil pusing dengan sikap beliau, andaikan dia bukan Menteri, bukan pemimpin, bukan ulil amri, bukan public figure yang pasti berdampak pada masyarakatnya. Maka, aku di sini, sebagai rakyat yang menghormatinya, berharap agar hobbynya itu, kalaupun tak bisa dihentikan, setidaknya merokoklah di tempat dan saat di mana masyarakat tidak akan terkena efeknya. Terutama untuk anak sekolah. Bayangkan kalau sampai mereka
dengan ‘watados’nya merokok tanpa segan-segan, akibat terinspirasi sikap beliau yang dipertontonkan di media?
Padahal para guru dan orangtuanya, bahkan banyak lembaga yang sudah berkorban untuk mewanti-wanti mereka dengan kampanye anti rokoknya, akan terasa percuma dengan sikap Ibu Susi tanpa similikiti itu.

Jujur aku salut, atas prestasi yang diraihnya, dan percaya akan kapabilitasnya sehingga dia dipilih menjadi Menteri. Dan oleh karena itu, mbok ya sikapnya itu dikontrol, tak seenake dewek, karena sekarang kondisinya lain, dia sudah jadi Menteri, sudah jadi ulil amri, sehingga apapun yang dia lakukan akan dilihat dan mengilhami jutaan masyarakat Indonesia.

Aku tahu, bagi para fans berat bu Susi, pasti akan membela apapun sikap beliau, bahkan perkembangan saat ini, banyak para bu Susi’s lovers, yang dengan ringannya membanding-bandingkan beliau dengan pemimpin perempuan lain, untuk mencari pembenaran. Hey para bu Susi’s lovers, ini bukan saatnya mencari pembenaran atas kebiasaan yang masih bisa diperbaiki. Karena, pecinta atau fans sejati, tak kan membiarkan tokohnya melakukan hal yang tidak baik. Ingatlah prinsip ini; Jadilah orang yang membiasakan kebenaran, bukan membenarkan kebiasaan.

Dan aku sebagai masyarakat yang menghormati pemimpinnya, maka kutuliskan unek-unek ini, agar Ibu Susi tanpa similikiti berkenan memperbaiki sikap (Kalau soal hati, aku yakin dia orang baik). Dan agar para loversnya, lebih objektif, tidak asal membela ‘buta’. Karena tujuan kita sama  (ingin membangun bangsa, khususnya mental dan sikap banga ini). Tidak untuk meruntuhkan, bukan?🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s