Masih ada; kesetiaan dan ketulusan sesungguhnya


Sebelum resensi ini dibaca, saya ingin mengucapkan terima kasih banyak, pada Citra, karena dia yang menghadiahi saya buku ini saat saya milad tahun ini.🙂
thanks y cit!🙂 Bukunya udah khatam Dj baca pas belom lahiran, tapi baru smpet diresensi sekarang. Trus filmya udah mulai ditayangkan belum ya? Kalau iya berarti ini telat banget ngeresensinya, Hihi…

Chek this one out!😉

###

Judul buku : Assalamu’alaikum Beijing!

Penulis : Asma Nadia
Penerbit : Asma Nadia Publishing House
Tahun terbit : Cetakan keempat, April 2014
Tebal buku : 342 Halaman

image

sumber foto : koleksi pribadi

Di antara rembulan yang tersembunyi dalam gelap dan gemerisik angin yang datang dari kejauhan, kemana akan kubisikkan cinta?

Dewa dan Ra adalah busur dan anak panah. Keduanya memiliki

bidikan yang sama, sebuah titik bernama istana cinta. Namun, arah angin mengubah Dewa. Sebagai busur, dia memilih sasarannya sendiri dan membiarkan anak panah melesat tanpa daya.
Sebagai pengagum mitologi, Zhongwen ibarat kesatria tanpa kuda. Sikapnya santun dan perangainya gagah, tapi langkahnya tak tentu arah. Dia berburu sampai negeri jauh untuk mencari Tuhan dan menemukan Asma, anak panah yang sanggup meruntuhkan tembok besar yang membentengi hatinya.
Asma dan Ra yang ternyata adalah orang yang sama, berusaha bangkit dari keterpurukan cinta dan pengkhianatan kekasihnya. Sementara Dewa sebagai lelaki yang tak bisa menjaga kepercayaan cinta, berada dalam penjara hati yang dia buat sendiri. Sebisa mungkin dia meyakinkan wanita yang pertama dia cintai, namun ketika ujian berupa penyakit menimpa Asma, ternyata Zhongwen lah, lelaki dari Beijing itu, yang justeru teramat tulus menerima Asma apa adanya. Sedangkan cinta yang selama ini Dewa gaungkan, tidak sesuci yang diharapkan karena tidak tulus, alias omong kosong!

Dua nama, satu cinta. Asma Nadia, siapa yang tak mengenalnya, lagi-lagi memperlihatkan kelincahan tulisannya, dan kematangan gagasannya, lewat kisah cinta yang tak biasa. Kisah cinta yang menyakitkan, sekaligus mengharukan.

Novel yang disajikan dengan bahasa dan gaya khas Asma Nadia, mengalir dan renyah ini, mengingatkan pembaca bahwa cinta yang tulus itu ada, bahwa cinta sejati yang penuh kesetiaan itu ada, bahwa keyakinan berbaik sangka atas takdir Allah SWT adalah mutlak diperlukan dalam hidup, bahwa pertolongan Allah itu dekat, bahwa hidayah hanya Allah yang memberikannya sementara manusia hanya menyampaikan, dan bahwa cinta suci yang sesungguhnya dimulai dari ketulusan berikrar di hadapan Allah.

Dalam novel ini, Asma Nadia juga berhasil menggambarkan budaya dan sejarah Beijing. Yang umumnya orang-orang hanya mengenal tembok raksasa, maka kelebihan novel ini adalah menampilkan kisah apik tentang cinta sejati dari Yunan, yakni Ashima dan Ahei.

Novel ini cocok untuk menemani waktu santai, dan tidak dianjurkan untuk usia dibawah baligh. Karena ada beberapa plot yang hanya pantas dicerna orang dewasa.
Dan kabar gembiranya adalah, novel ini happy ending.🙂 Selamat membaca!

Djayanti Nakhla Andonesi
ditulis setelah anakku pulas ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s