Menunggu yang produktif


Bosan, adalah satu dari sekian deret perasaan ketika kita -terpaksa ataupun sukarela- menunggu.

Dan kata orang,

waktu menjadi terlalu lamban berjalan untuk yang sedang menungu.
Namun, sebenarnya tidak selalu demikian, bagi orang-orang kreatif.

Yap. Menunggu malah bisa menjadi waktu emas. Dengan catatan, waktu yang dipakai untuk menunggu ‘disambil’ dengan melakukan hal-hal positif dan produktif. Jadi, tidak asal menunggu tanpa berbuat apa-apa, atau leyeh-leyeh, atau memangku dagu tidak jelas, atau melamun berharap uang turun deras dari langit! Oh no!

Bila menunggu sesuatu, tanpa ‘disambil’ kegiatan lain yang bermanfaat, tentu rasa bosan, jenuh dan bete tingkat dewa itu akan lebih cepat mendera. Jengkeeeeel kita dibuatnya.

Nah, untuk mengatasi kejengkolan eh kejengkelan akut yang diakibatkan suatu kata ‘menunggu’, kita mungkin dan bahkan amat bisa melakukan hal lain yang bermanfaat. Jadi, kita tidak bosan pada saat menunggu. Dan yang lebih penting, waktu kita tidak berjalan percuma.

Misal, pada saat kita menunggu antrean panggilan di rumah sakit, seperti yang saya sering alami, kita bisa membaca buku (sediakan space di kantong/tas untuk benda ini) atau artikel-artikel yang bisa dengan mudah diakses selain tentu tidak ribet. Atau kalau Anda bukan tipikal orang yang hobby membaca, minimal Anda bersilaturahmi dengan saudara atau kawan lama lewat telepon atau sms. Bila ingin lebih optimal, membaca dan mentadabburi mushaf quran, sangat dianjurkan untuk Anda yang beragama Islam.

Atau bila Anda sedang berhalangan, dan malas membawa buku, sedangkan HP sedang krisis pulsa atau lawbet sehingga tak memungkinkan untuk mengakses artikel atau berita, Anda bisa berjalan di sekitar area tunggu tersebut untuk mencari udara segar, atau sekedar mengamati hal yang bisa Anda renungkan. Dan bahkan lebih bagus lagi, bila hati terus berdzikir. Sehingga tidak ada kesempatan syetan merasuk ke dalam hati dan pikiran.

Kegiatan-kegiatan tersebut juga dapat diterapkan saat Anda menunggu kereta, atau kendaraan apapun itu yang menjemput Anda. Dan bahkan pada saat Anda sedang di dalam kendaraan itu.

Seperti yang dilakukan oleh Imam Robandi, beliau selalu memanfaatkan waktu menunggu dengan menulis banyak karya. Bahkan sebagian besar karyanya ditulis pada saat menunggu. Sehingga menunggu baginya adalah waktu-waktu emas. Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui, istilahnya.

Pokoknya, Lakukan sesuatu yang positif, apa saja yang Anda bisa, pada saat menunggu! Jangan hanya diam termangu.
Apalagi saat Anda sedang menunggu (ataupun menjemput) jodoh *eh* , lakukanlah sesuatu yang positif untuk meningkatkan kualitas diri di hadapan Tuhan, agar Tuhan juga meningkatkan kualitas si ‘dia’ yang telah ditulis di lauh mahfudz untuk Anda.🙂

Karena bukan menunggu yang membuat Anda kehilangan nilai waktu yang berharga, melainkan sikap diam tanpa berbuat apa-apa-lah yang menjadi penyebabnya.

So, jadikan waktu menunggu bukan lagi hal yang membosankan, tetapi menjadi waktu-waktu emas dengan melakukan hal-hal produktif sekaligus positif!🙂
Chayoooo!

#tulisan ini untuk mengingatkan diri saya sendiri,🙂 #

Djayanti Nakhla Andonesi.
Karawang, ditulis saat mati lampu dan hujan gemericik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s