Mencari hikmah dari metafora


Judul buku : Negeri Sukun (Kelakar Sang Kiai untuk Negeri)

Penulis : Ahmad Fuady

Penerbit : Republika

Tahun Terbit : cetakan I, Maret 2009

Tebal : 238 Halaman

sumber photo koleksi pribadi

sumber photo koleksi pribadi

Dari nama penulis, pembaca mungkin akan terkecoh. Bahwa yang menulis buku ini adalah orang yang sama dengan penulis buku Negeri Lima Menara. Namun kenyataannya berbeda. Ahmad Fuady yang dimaksud di sini adalah lelaki yang lahir di Jakarta, dan menuntut ilmu di perguruan tinggi Universitas Indonesia, mengambil jurusan kedokteran dengan tanpa meninggalkan hobinya, yakni menulis, selain aktif di berbagai lembaga keislaman, khususnya di sekitar kampus. Latar belakangnya yang demikianlah yang menyebabkan lahirnya buku ini.

Jarun dan Sang Kiai adalah dua tokoh utama (yang meskipun fiktif) dalam setiap sub bab buku ini. Melalui peristiwa-peristiwa yang dialami sang tokoh, penulis mengeksplor makna-makna kebenaran. Sehingga, kandungan yang terdapat dalam buku ini berbobot. Apalagi bagi para cendikia, atau aktivis pendidikan maupun pemerintahan, buku ini sangat rekommended. Selain karena penulisannya yang sistematis, pembaca juga akan lebih menajamkan pemikiran, karena isinya adalah (lebih banyak) membahas mengenai kepemimpinan, baik kepemimpinan diri sendiri maupun dalam cakupan yang lebih luas.

Sementara bahasa dalam buku ini dibalut dengan majas-majas. Kadang sarkasme, kadang metafor, dan berbagai majas lainnya. Kadang terasa begitu lembut, tapi di lain kalimat begitu menohok. Dalam hal ini, penulis lihai memainkan tintanya untuk mengaduk-aduk perasaan dan logika pembaca. Karena selain berbentuk sindiran, buku ini juga memuat kritikan-kritikan membangun, umumnya untuk bangsa Indonesia, khususnya bagi kaum muslim.

Buku ini, menurut saya, tidak cocok untuk usia anak-anak, karena khawatir menimbulkan persepsi yang keliru. Mengingat, bahasa yang disajikan cukup berat. Namun, bagi siapa saja yang bosan dengan bacaan yang ‘datar’, buku ini sangat layak untuk menemani keseharian pembaca, sebagai bahan perenungan hidup, karena di dalamnya penuh dengan hikmah.

Selamat membaca!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s