Sakitnya tuh di Sini!


Siapa yang ingin merasakan sakit hati? Orang waras pasti mengatakan tidak ingin. Namun, sayangnya, semua orang pasti pernah -walaupun sekali saja misalnya – merasakannya, betapapun tidak inginnya.
Banyak hal. Yang membuat kita akhirnya mengatakan ‘sakitnya tuh di sini! Di dalam hatiku’. Entah itu karena ucapan, perlakuan, atau sifat oranglain terhadap kita, baik langsung ataupun tidak langsung. Entah itu secara personal maupun cakupan yang lebih luas.

Seperti yang sekarang sedang saya dan juga kaum muslim lainnya alami. Bagi kami, menggambarkan wujud baginda Rosul Muhammad saw. yang kami cintai, adalah bentuk ketidaksopanan, pelanggaran, dan pelecehan. Karena Rosul kami amat suci sehingga tak bisa dibayangkan dalam bentuk gambar sebagus apapun.

Namun, apa yang sedang dilakukan oleh orang-orang tak ‘berperasaan’ itu (baca Charlie Hebdo dkk) dengan seenak udelnya membuat karikatur baginda Rosul, disampul majalahnya, bahkan sampai dicetak berjuta-juta eksemplar, dengan mengatasnamakan kebebasan berekspresi, sesungguhnya merupakan tindakan yang tidak bermoral. Karena, mestinya sebebas apapun juga, kreatifitas itu harus tetap didasari rasa tanggung jawab dan memandang penting norma-norma yang berlaku. Termasuk norma agama, yang mestinya antar pemeluk agama harus saling mengahargai satu sama lain. Bukan berarti, kebebasan berekspresi dijadikan tameng untuk menghardik atau melecehkan agama Islam. Atau, dengan alasan yang lebih tidak masuk akal, yakni sebagai balasan atas tindakan ekstremis yang terjadi beberapa waktu lalu di Prancis.
Padahal, siapa sebenarnya pelaku itu? Bukan baginda Rosul kan? Lantas, mengapa justeru Rosul yang dilecehkan? Mengapa justeru menyudutkan umat muslim?

Sebagai manusia normal, siapapun kecewa dan mengutuk perbuatan tak berperikemanusiaan yang sampai menewaskan 12 orang itu. Dan sebagai manusia yang masih bisa berfikir, mestinya kejadian itu tak lantas menjadi alasan untuk mereka membuat pelecehan yang ditujukan untuk umat muslim. Karena kejadian tewasnya 12 orang tersebut bukan saja tanggung jawab satu agama, melainkan tanggungjawab bersama.

Saya, dan kita semua berharap, kejadian ini tidak membuat warga dunia Islamophobia, seperti yang sedang merebak isunya di barat sana. Oleh karena itu, kita tidak perlu terpancing melakukan tindakan radikal mengenai aksi ‘kurang ajar’ majalah Charlie Hebdo itu. Kita tak boleh celaka dua belas. Kita harus buktikan pada mereka yang menghina agama hak ini, bahwa Rosul kita sangat mulia. Kita dapat membela Rosulullah dengan sikap, prilaku, ucapan yang baik, pada siapapun tanpa pilih kasih, kapanpun dan di manapun, sebagaimana yang diajarkan Rosul penyebar Rahmatallil’alamin.

Karena, bila kita tersulut dan bersikap ekstrim menghadapi pancingan sampul majalah Charlie Hebdo itu, mereka yang bertujuan merusak Islam akan semakin tertawa lebar dan tepuktangan lalu menyebarkan Islamophobia dengan sangat mudah.

Andai saja mereka yang ‘konslet’ itu tahu, bahwa Rosulullah sangat mulia hati, dan akhlaknya. Bahkan, kalau baginda masih hidup, baginda Rosul pasti akan memaafkan ulah CharliebHebdo itu. Ah, pasti mereka akan malu telah berbuat demikian.

Ya, kita memang marah mengetahui Rosul kita dihina. Sungguh, sakitnya tuh di sini! (Nunjuk hati yang paling dalam)
Tapi, kita masih punya cara yang lebih elegan, dan terhormat untuk menghadapi ‘kekonsletan akal’ mereka para penghina itu. Yakni, dengan cara terus menebar kebaikan, kelembutan, dan pertolongan pada siapa saja di mana pun kita berada, sebagaimana yang Rosulullah ajarkan. Untuk itu, sudah sepatutnya, kita terus belajar menjadi ‘agen’ muslim yang baik, juga cerdas, baik cerdas intelektual (memahami sejarah, di antaranya), cerdas emosional (mampu mengelola dan mengendalikan emosi), dan cerdas spiritual ( menjadi insan yang bertakwa).

I hear the flowers kinda crying loud
The breezes sound in sad
Oh no
Tell me when did we become,
So cold and empty inside
Lost a way long time ago
Did we really turn out blind
We don’t see that we keep hurting each other no
All we do is just fight
Now we share the same bright sun,
The same round moon
Why dont we share the same love
Tell me why not
Life is shorter than most have thought
Hold my hand
There are many ways to do it right
Hold my hand
Turn around and see what we’ve left behind
Hold my hand my friend
We can save the good spirit of me and you
For another chance
And lets pray for the beautiful world
The beautiful world I share with you*

*the song Hold My Hand by Maher Zein

Salam,
Djayanti Nakhla Andonesi
@Telukjambe, Karawang city

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s