Catatan di Penghujung Ramadhan


Sepulang suami dari I’tikaf, aku segera bertanya, ‘oleh-oleh’ apa yang didapat dari I’tikafnya. Setelah I’tikaf yang lalu beliau mendapat oleh-oleh ‘berkah’, tadi pagi, beliau membawa ‘oleh-oleh’ tentang memaafkan.

Dadaku cukup terhentak.

Apalagi ketika suamiku mengatakan, “maafin semua yang pernah menyakiti hati mami ya…”

Kepalaku kubenamkan di dadanya. Aku nyaris meneteskan air mata.

Beliau mengulang lagi kalimatnya, lalu menambahkan, “siapapun itu, atas apapun itu.”

Aku memeluknya erat. Terkadang ada kata yang tak bisa kucairkan lewat bahasa. Karena, saat aku meraba-raba hatiku, ternyata masih ada rasa sakit, walau sedikit, atas perlakuan maupun kenyataan-kenyataan menyakitkan yang aku terima.

Ya. Hatiku memang pernah babak belur, hancur lebur. Namun aku sudah berjuang mengobatinya sendiri. Aku sudah membalutnya dengan rapi. Aku sudah berusaha untuk memaafkan semuanya. Namun, mungkin lebamnya masih ada. Hingga, terkadang ‘tersenggol’ sedikit langsung kembali terasa ngilunya.

“Allah menyukai orang-orang pemaaf… karena Dia sendiri adalah Dzat yang Maha Memaafkan.” Lanjut suamiku.
“Itulah mengapa, kita dianjurkan untuk sering membaca doa, ‘Allahumma innaka ‘affuwwun kariim, tuhibbul ‘afwa fa’fuannii…(ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Memaafkan lagi Maha Mulia, yang Mencintai Maaf, Maka Ampunilah aku… ”

Aku mencerna ucapannya dalam diam.

Suamiku tahu, bahwa ada masa-masa di masa laluku yang begitu berat aku lewati, begitu menguras air mata bahkan hati.

Maka dia melanjutkan…

“Pemaaf itu… adalah tingkatan shaleh/shaleha yang paling tinggi… Papi mau istri papi selalu menjadi wanita shaleha dan menjadi seorang yang pemaaf…” katanya tulus.

Aku mengaminkan. Hatiku tersentuh. Jiwaku kembali dibasuh.

“Mami mau kan maafin semuanya (tanpa bekas)?”

Aku pun mengangguk pelan.

Ya. Aku memang bukan wanita shaleha, namun aku berusaha belajar menjadi makhluk yang lebih baik. Tak ada kupu-kupu yang tak punya proses melelahkan dalam hidupnya untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Tak ada kupu-kupu yang menolak masa metamorfosisnya. Karena hanya dengan metamorfosislah, kupu-kupu menjadi pribadi baru yang lebih baik, tak lagi dipandang sebagai ulat yang menjijikkan.

Terima kasih ya Allah, telah menakdirkan suami yang pengertian, yang tak bosan membimbingku untuk sama-sama sampai di surga-Nya, yang mencintaiku sepenuh jiwa raganya.

Makasih ya pii :*

-Kaumjaya, di penghujung Ramadhan-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s